Sunday, October 6, 2019

Excerpt: Novel TRIAD KEMATIAN

Oleh Fitrah Tanzil


Bab 01
MATSURI



Di Parkir Timur Senayan.

Azra turun dari Porsche-nya. Ia mengunci pintu mobil, menekan alarm, dan berjalan meninggalkan parkiran basah. Kepalanya masih sedikit pusing sebab perjalanan udara dari Lombok ke Jakarta. Sore tadi ia sampai di Bandara Soetta, lalu mengambil mobil di Kelapa Dua JakBar, dan malam ini menjemput pacarnya di Parkit Senayan. 

“Darrr… Darrr… Darrr!” Suara dari ledakan di langit sedikit mengagetkannya.

Melihat ke jam di layar handphone-nya, baru 20:30, tapi Hanabi  sudah dimulai atau mungkin hanya pembukaan pesta kembang api, pikirnya. Ledakan warna-warni terlihat membentuk jamur raksasa di atas Senayan.

Berjalan 40 meter, ia sampai di depan gapura berwarna merah. Di atasnya terlihat sebuah tulisan Jepang yang bisa diterjemahkan sebagai festival. Di pintu masuk, Azra langsung disambut oleh dua SPG cantik yang mengenakan yukata warna biru, juga seorang satpam dengan pakaian dinas hitamnya. Dari posisinya suara keramaian dari arak-arakan Omoidori sudah bisa terdengar, juga keriuhan dari panggung utama yang saat ini sedang diisi oleh band V-Kei lokal.

Si SPG cantik meminta tiket masuknya, tapi ia cukup menunjukan kartu panitia, kartu yang kemarin diberikan oleh kekasihnya, Sophie Aulia.

Melangkah ke dalam, Azra kembali disambut oleh spanduk warna merah muda, lalu lampion-lampion merah, pohon bunga sakura sintetis, dan para pengunjung yang membludak seperti station kereta di H-3 Lebaran. Semuanya begitu bising seolah dirinya berada di sarang lebah raksasa.


Di sekelilingnya berbagai macam anak muda berdandan warna-warni. Ada satu crew berkostum pemain basket warna biru putih dengan rambut warna pelangi. Lalu ada juga sekumpulan anak muda yang mengenakan kimono hitam bergambar awan merah, dan jaket hitam orange dengan lambang pusaran air. Juga baju biru dengan lambang kipas merah. Ia sangat mengenal lambang itu. Dan ada beberapa cewek cantik yang mengenakan seragam sekolah dengan cardigan hitam yang begitu ketat meniru idol group Jepang.

Juga yang tidak kalah seru Saint Seiya generasi baru. Ia suka modelnya, para cosplayer ini hebat, mereka membuat jubah dari stereofoam seolah dari bahan metalik.

Kamu di mana?
Sms Azra ke handphone Sophie.

Aku di depan stand Dorayaki samping panggung utama.
Balas cepat Sophie.
.  .  .

Bicara fisik, Azra berkulit putih dan berbadan tegap. Lengan dan bahunya selalu terlihat keras karena latihan fisik setiap hari. Sedangkan untuk wajah, Ia memiliki tampang mirip Jesse Eisenberg, hanya saja dengan mata yang lebih kecil dan hidung yang tidak terlalu mancung. Rambutnya hitam tebal dan selalu disisir ke sebelah kanan.

Untuk urusan pakaian, ia biasa mengenakan kemeja warna biru dibalut jas abu-abu gelap, Seperti yang ia kenakan sore ini, kemeja kotak-kotak hitam koral, seperti Clark Kent saat datang ke Daily Planet. Bagian bawah selalu celana jeans biru gelap dan sneaker warna putih strip hitam. Ia juga tidak pernah menggunakan jam tangan, karena jam menghambat fleksibilitas tangannya. Apalagi untuk keadaan-keadaan tertentu seperti bertarung, itu akan sangat menyulitkan.

Meski penampilan fisiknya terlihat biasa, namun siapa pun yang berjabat tangan dengan Azra Lazuardi, pasti bisa merasakan bahwa dia –adalah laki-laki mapan yang sangat berbahaya.

Sejak empat tahun yang lalu, Matsuri jadi acara tahunan wajib baginya. Selalu membuat bernostalgia dengan manga, anime, dan Japan pop culture lainnya. Kembali ke zaman-zaman dia kecil dan bahagia. Walau itu hanya acara komunitas Jejejapangan, namun selalu saja pengunjung berjubel seperti perayaan tahun baru. Stand-stand masakan Jepang berjajar panjang seperti gerbong kereta. Mulai dari masakan semi mentah seperti Sushi dan Sashimi, makanan berkuah panas seperti ramen dan kare, hingga berbagai jenis panggangan.  Azra bisa mencium bau cumi bakar yang lezat di atas Takoyaki yang baru diangkat dari panggangan. Sayangnya, antrian begitu panjang sehingga ia harus melewatkannya.

Lalu di depannya, keramaian depan panggung utama yang menghadirkan group Idol terkenal JKT 48, para penggemarnya berteriak-teriak riuh seperti supporter sepak bola, benar-benar luar biasa.

Tiba-tiba keriuhan itu seolah menghilang dari telingannya. Semua menjadi sepi dan panca inderanya hanya bisa fokus pada satu titik. Titik itu adalah wanita cantik yang tertawa di antara perempuan cantik yang lain. Ia berdiri tepat di depan stand Dorayaki. Wanita cantik itu mengenakan yukata putih dengan motif bunga sakura, ia mengenakan sepasang sandal kayu di kakinya dan sebuah kipas kertas merah di tangan kanannya. Dialah yang sejak tadi dicari oleh Azra, sang kekasih hati yaitu Sophie Aulia Sahab.

Mata itu membulat.

Sophie adalah cewek keturunan Arab dengan kulit putih seperti salju, mata indah seperti batu safir, hidung mancung, dagu lancip, bibir sensual, dan rambut yang merah menyala. Semua definisi keindahan dan kecantikan ada padanya. Dari kepribadian dan latar belakang keluarga, Sophie juga nyaris sempurna. Berasal dari keluarga kaya yang memiliki perusahaan parfum. Lulus S1 Teknik Kimia dari Universitas Tokyo, pernah menjadi model untuk Uniqlo, dan sekarang bekerja di divisi marketing untuk sebuah perusahaan elektronik Jepang.

Bersama dengan Sophie, Azra tahu ada percikan-percikan sombong di dadanya. Punya kekasih yang super-cantik membuatnya tidak tahan untuk selalu menyebut dan membanggakannya. Terutama pada teman-teman lama yang pernah meremehkannya dahulu. Rasanya seperti membalas dendam. Lebih dari itu Sophia Aulia juga mengubah jalan hidupnya. Azra yang tadinya seorang informan kepolisian, penyelidik lapangan, dan petarungan yang suka bertaruh nyawa. Sekarang beralih profesi sebagai pengelola franchise Minimarket.

Semua gara-gara sang wanita, Sophie. 

“Hei,” panggil si wanita, namun si laki-laki masih kaku berdiri.

Sophie mendekatinya dan berteriak lagi. “Oii, Bengong aja?”

“Oh, sorry.” Azra terbangun dari lamunannya.

“Apa yang kamu lihat?”

“Aku melihat bidadari.”

Si wanita menggeleng. “Huh, gombal.” 

“Sumpah, beneran!!” si lelaki meyakinkan.

Sophie mendekat dan mencekik leher Azra, kemudian melepasnya dan memberikan kecupan di pipi. Seperti biasa, wanita itu memang jaim untuk menunjukan rindu dan kangennya pada sang kekasih.

“Gimana Lombok?” tanya Sophie Aulia.

“Panas!” balasnya.

“Hmm, beruntung aku di sini, hujan lebat dari tadi siang,” info si wanita.

Azra tersenyum. “Iya, sungguh cuaca yang hebat!”

Si wanita tertawa. “Masih jetlag?”

“Sedikit.”

“Tapi bisa bawa mobilkan?”

“Bisalah,” sekilas matanya melirik ke bawah. “Nice paper fan!”

“Oh ini,” si wanita mengangkat kipasnya. “Ini suvenir khusus panitia dan undangan.”

“Nggak dijual ya?”

“Ya, nggaklah.”

“Oh begitu,” Azra manggut. “Khas banget ya, maksudku kayak klan Uchiha.”

Dia tertawa. “Ya iyalah, sebab cewek-cewek sini fansnya Sasuke Uchiha.”

Azra ikut terbahak. 

Sophie pun kembali sibuk dengan teman-temannya. Sementara si kekasih mengikutinya dari samping dan menyamali mereka. Namun ada satu temannya Sophie yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

“Miko, kenalkan ini Azra,” ucapnya ke pemuda tampan berwajah dingin yang berdiri di sebelah.

Ia mengulurkan lengan panjang. “Azra.”

“Miko,” balas si wajah dingin.

Azra bisa merasakan kulit jari yang keras dan agak kapalan di ujungnya, tekstur khas yang biasa ia temui pada teman-temannya yang biasa bermain guitar atau kuli angkut di pasar.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Rasanya tidak,” jawab si pemuda dengan senyum.

Matanya naik turun memindai si lawan bicara.

Pemuda itu begitu tampan, berkulit putih, alis yang tebal, mata yang bulat besar, pipi yang kencang serta hidung yang mancung. Wajah yang terlihat seperti lelaki kuat yang hobi rutin fitness atau seorang yang biasa bertarung di ring. Dan memang Azra bisa melihat bulatan otot bisepnya, pundaknya juga terlihat keras layaknya batu yang menonjol. Fisik ini lebih cocok menjadi pria metroseksual yang dipuja oleh tante-tante kaya daripada seorang geek yang hobinya nonton anime.

“Elo suka main di Blok M Square ya?”

Miko pun mengernyit.

“Maksud gue cari-cari buku di lantai dasarnya?”

Azra menatap wajah si lawan, terlihat si pemuda mengekspresikan keengganan, namun matanya melirik ke kiri atas yang mengisyaratkan sesuatu.

“Iya, pernah sesekali.”

“Elo suka komik detektif?”

“Iya,” balasnya singkat.

Dari wajah malasnya, terlihat, pertanyaan-pertanyaan singkat itu membuat si lawan bicara risih.

“Benar berarti kita memang pernah bertemu,” Azra pun tersenyum seperti menang hadiah tujuh belasan. “Elo yang tiga minggu lalu memborong komik Kindaichi di sana bukan?”

Miko menaikkan alis. “Wah, kok Anda tahu.”

Ada ekspresi samar antara terkejut dan marah di sana, namun sekejab wajahnya berubah menjadi senang.

“Iya, karena gue juga ada di sana, waktu itu gue lagi cari komik The Negotiator.”

“Itu sudah tiga minggu loh.”

Sophie Aulia tertawa kecil. “Azra ini punya kemampuan khusus loh,” jari si wanita naik ke dahi. “Apa istilahnya… Method of Loci?”

Miko melirik ke kanan. “Oh, Mind Palace, hebat! Jadi kayak Sherlock Holmes dong!?”

“Iya semacam itu,” jawabnya dengan bangga.

Perbincangan ringan pun berlanjut selama beberapa menit, tentang apa yang terjadi di Festival dari siang sampai sore tadi. Siapa saja bintang tamu yang mengisi acara di panggung utama, dan anime apa yang sedang nge-hits saat ini, siapa yang menjadi juara cosplay dan tentang perlombaan band indies.

Dari gestur dan postur penampilan si pemuda, sama sekali tidak menunjukan bahwa dia pernah jadi Otaku. Azra kenal cowok-cowok Otaku yang keren, yang sukses baik itu di akademik, di bisnis atau band dan lain sebagainya. Ia tahu, bahwa sesukses apa pun seorang otaku, mereka tetap memiliki gestur sebagai otaku. Agak pemalu, introvert, mencoba memberi jarak dan kadang menutup diri. Namun Miko, dia sama sekali tak seperti itu. Dia lebih mirip seorang ekstrovert tampan yang jago akting seperti Eza Gionino.

Memindai wajah si pemuda, Azra merasakan, ada sesuatu yang Miko sembunyikan, sesuatu yang berbeda dari apa yang ada di permukaan. Dan instingnya mengatakan, itu adalah hal sangat berbahaya.

“Gue duluan ya,” ucap Azra kembali menjabat tangan.

Si pemuda membalas. “Oke.”
.  .  .


Dalam perjalanan pulang, di Porsche Azra.

Sophie menarik napasnya dalam-dalam, wangi lemon masuk ke paru-parunya. Lemon satu lagi kesamaannya dengan Azra selain novel detektif. Mencoba untuk relaks memandangi lampu-lampu jalan dan pemandangan melankolis malam Jakarta,  tiba-tiba ia teringat wajah Miko dan percakapan tadi.

“Sayang,” ucap si gadis cantik.

“Iya,” Azra terdengar malas.

“Menurut kamu seperti apa Miko?”

“Dia tampan.”

“Iya, aku tahu itu,” si wanita terdiam sejenak, lalu secara mengejutkan ia berkata. “By the way, tadi kamu cemburu ya?”

“Cemburu!?”

“Iya, melihat aku dengan Miko tadi.”

“Aku nggak cemburu, aku cuma khawatir,” suara Azra terdengar lebih keras. “Kamu tidak lihat matanya, dia seperti seorang Sociopath tahu.”

Si wanita tertawa. “Hahaha, benarkan kamu memang cemburu!”

“Iya, iya aku ngaku aku cemburu, dia muda, tampan, dan dia berada di dekat kamu seharian ini.”

Sophie ingat pertama kali berkenalan dengan Azra di sebuah restoran pizza di Kemang. Saat itu mereka baru masuk SMA. Si pemuda tampak begitu canggung, seolah tak pernah bertemu gadis cantik seumur hidupnya.

Sekarang pun ia masih sering terlihat gugup seperti itu, kadang suka tersenyum malu-malu dengan pipinya yang memerah. Bahasa tubuh memang lebih banyak berbicara daripada kata-kata. Dan hal yang sama terjadi tadi, ketika ia sedang berbincang dengan Miko, Azra tampak mengerutkan dahi dengan mata yang memicing kecil.

“Oh iya, memang benaran kamu pernah bertemu Miko sebelumnya?”

“Di Blok M itu, iya beneran.”

“Kok kamu bisa mengingatnya. Rasanya nggak mungkin, meski kamu bisa Method of Loci.”

Azra menghentakan suaranya. “Tentu saja aku mengingatnya, karena dia itu ANEH.”

“Dan tampan.”

“Iya, dia memang tampan dan itulah yang membuatnya aneh.”

Sophie hanya tertawa.

“Iya, tentu saja aneh, saat itu aku ada di sana, di lapak komik. Tiba-tiba muncul pemuda tampan dengan jaket hitam ala anak band. Penampilannya terlihat begitu gaul dan nggak ada bau-baunya seorang geek, nerd, ataupun otaku. Rasanya sangat tidak masuk akal cowok seperti dia berada di lapak komik dan memborong Detektif Kindaichi.”

“Oh begitu ya konklusinya, tidak seperti kamu yang kurang populer di sekolah.”

Azra menepuk jidat. “Tapi kamu suka kan dengan aku yang sekarang!?”

Si wanita menekuk bibirnya. “Iya mau gimana lagi, nggak ada pilihan lain.”

Mobil sampai di bundaran Ratu Plasa, Azra mengambil putaran ke kanan masuk ke Pakubuwono. Sophie memperhatikan wajah sang kekasih, wajah itu seolah kembali berbicara. Ini bukan tentang cinta dan romansa, ada sesuatu yang lain di sana sesuatu yang mengganggunya.

Dan benar saja sebuah telepon berdering. “Halo… Iya… Oke, gue ke sana.”

“Telepon dari siapa?”

“Lufin,” tangannya tampak menggenggam stir lebih kera. “Dia ada di Pondok Indah.”

“Terus ada apa?” si wanita penasaran.

“Ada kasus baru, kasus yang sangat menarik katanya.”

Ia sedikit tertegun, inilah yang ia khawatirkan. Sang kekasih kembali ke jalanan dan mengejar kasus kriminal.

Tangan Sophie mengepal, perlahan menunjukan amarah yang ia pendam. Ego-nya memang sangat tinggi untuk menjaga apa yang ia cintai, tapi ia juga menyadari, inilah satu-satunya hal selain dirinya yang dapat mengisi lerung hati Azra, sebuah kasus kriminal yang sangat menantang untuk dipecahkan.
.  .  .


Bab 02
MENGHILANG


Pondok Indah, Jakarta Selatan

Dua mobil patroli polisi, sebuah Humvee, dan sebuah ambulance terparkir di halaman. Malam ini rumah putih dengan arsitektur minimalis itu menjadi TKP pembunuhan seorang anggota DPR.

Tidak ada garis polisi, namun terlihat 2 - 3 orang berseragam coklat mondar-mandir di teras depan.

Di sana juga berdiri seorang pemuda tampan yang mengenakan jaket warna ungu, dialah Alvin, Inspektur muda yang selalu sukses membuat orang awam tidak mengenalinya sebagai polisi. Alvin memandang ke langit, ke kumpulan awam, ia tampak gelisah mencemaskan sesuatu.

Lalu seorang polisi berkulit gelap dengan tubuh kekar menghampiri, ia mengenakan seragam coklat dibungkus jaket polisi, ada tanda pangkat tiga balok di bahunya, sebuah name tag tertera di depan sakunya 'Zabar Rauf' penyelidik dari Bareskrim Mabes Polri.

Dengan suara beratnya ia berkata. “Apa dia akan datang ke sini?”

“Iya, dia pasti datang,” jawab Inspektur Alvin.

Polisi bertubuh kekar itu berdehem, lalu mengambil rokok dan menyalakannya. “Ngomong-ngomong, kenapa mereka memanggilnya sang Informan?”

Dengan wajah sedikit jijik, ia balas menatap AKP Zabar. “Karena dia seorang informan.”

“Iya, dia memang seorang informan. Tapi kenapa dia disebut sang Informan?”

“Karena dia pernah jadi informan jalanan untuk seorang detektif.”

“Informan Jalanan, menarik.” Si kapten polisi tersenyum licik. “Ngomong-ngomong siapa detektif itu?”

“Anda pasti tahu,” ujar si Inspektur dengan perlahan. “Dia adalah Ming.”

“Apa Ming?” dia tampak sangat terkejut. “MING yang itu?”

Inspektur Alvin mengangguk. “Iya, laki-laki yang berada di balik bayangan.”

“Ini GILA,” sang kapten polisi memasang wajah sangat senang. “Jadi dia ibarat anak-anak Baker Street yang menemani sang detektif Holmes.”

“Iya, persis seperti itu.”

“Luar biasa!” AKP Zabar tertawa.

Si Inspektur muda hanya diam mengkerut.

“Oh iya, saya dengar si laki-laki itu punya julukan lain selain sang Informan.”

“Setahu saya tidak.”

“Iya, saya pernah mendengarnya. Apa namanya Manusia Hujan?”

Alvin hanya menggeleng, berpura-pura tidak tahu.

Tak lama dari perbincangan, sebuah Porsche merah mengambil parkir di depan halaman. Seorang pemuda dengan sorot mata seperti elang dan seorang wanita cantik dengan rambut merah keluar dari pintunya.

“Nah, itu mereka,” ucap Alvin.

Azra berjalan dengan cepat lalu menyalami si lelaki berjaket. “Alvin… Wow, apa kabar?”

“Baik Az,” jawabnya sambil menyambut tangan. “Oh, iya kenalkan ini AKP Zabar dari Bareskrim,” tangan ke arah polisi bertanda tiga balok.

Sang Informan menyalami tangan si kapten polisi.

“Ngomong-ngomong di mana Lufin?”

“Dia di dalam, bersama Kombes Pol Hendra.”

Ia sedikit tersentak, nama yang disebut adalah masalah tersendiri.

Komisaris Besar Polisi Hendra Wiryawan, petinggi kepolisian dari Baintelkam -divisi khusus kepolisian yang menangani masalah intelijen dan keamanan negara. Terakhir bersama si Komisaris Besar, Azra menangani kasus tindak terorisme. Kasus yang tahun lalu heboh di media dengan sebutan ‘Insiden Thamrin,’ yang sayangnya, aksi tim kontra-intelijen mereka berakhir dengan kegagalan dengan banyak korban yang berjatuhan.

Mengingat kasus yang buruk itu, serta reputasi mereka di masa lalu. Ia yakin, siapa pun orang yang tewas di dalam sana pasti bukan orang sembarangan atau setidaknya korban punya hubungan dengan kasus kriminal besar yang terjadi di Jakarta.

Tiba-tiba Sophie menarik keras tangannya. Si wanita menatap dengan mata berkaca-kaca seolah berkata ‘jangan pergi ke sana,’ namun Azra balas menggenggam erat mencoba menenangkan, seraya berkata ‘semua akan baik-baik saja.’

Pintu dibuka oleh sang polisi.

Layaknya kelinci putih yang menunjukan jalan bagi gadis kecil untuk ke Wonderland.

Tapi AKP Zabar dengan sigap menghalangi. “Biar saya saja yang mengantar.”

Kembali Alvin memicingkan mata, memberi tanda hati-hati kepada sang Informan. Sedangkan ia sendiri memberi tanda dua jari untuk tetap waspada dan menjaga Sophie Aulia di teras.

Selalu mengantisipasi hal terburuk.
.  .  .

Azra mengorek telinga, terganggu oleh suara pantopel dari polisi di sebelahnya. Orang itu begitu berisik, bertingkah seperti pemimpin upacara bendera.

Melirik ke sekeliling, ruangan itu khas dengan interior modern minimalis. Dinding di cat putih dan keramik pada lantainya. Ruang depan cukup besar seukuran ruang kafe tempat biasa ia ngopi , di sana terdapat jajaran sofa putih dan meja kaca panjang di sana. Berjalan ke ruang tengah, masih tak tampak ada tanda-tanda sebagai tempat pembunuhan seorang pria.

Masuk lebih dalam, terdapat ruang terbuka di tengah dan ada sebuah tangga dengan railing menuju lantai dua. Dari sini, Instingnya langsung membuat simulasi, bagaimana pelaku masuk ke dalam? Bagaimana dia melangkah naik ke lantai dua? Bagaimana dia mengeksekusi korban? Hingga apakah pelaku turun lewat tangga ataukah melompat dari kamar jendela? 

Tiba-tiba AKP Zabar berujar. “Istri Anda sangat cantik!”

“Oh dia,” lamunan Azra pecah. “Dia bukan istri saya, belum tepatnya.”

“Melihat siapa yang mendampingi Anda, orang pasti langsung tahu Anda adalah orang hebat.”

“Ah, biasa saja.”

Sambil menaiki tangga, Zabar menjelaskan tentang lantai dua rumah itu, terdapat tiga kamar di sana, dan kamar yang paling depan merupakan TKP-nya. Lalu tepat di pintu masuk kamar, berdiri pria yang sangat ia hormati –sang maestro investigasi kriminal Jakarta, Kombes Pol Hendra Wiryawan.

Dari tampilan fisik, Hendra Wiryawan terlihat layaknya bintang film action yang sangat mapan, bugar dengan otot bahu dan bisepnya yang menonjol di balik jas hitamnya. Wajahnya tetap tampan meski sudah menginjak usia 40an, dengan kulit putih, hidung mancung, mata sipit, rahang yang keras dengan kumis tipis dan jenggot, membuat ia terlihat seperti bapak yang bijaksana.

Ia tahu sampai hari ini pun, komandan penyelidik dari Baintelkam ini masih suka nge-gym dan lari 10 kilometer tiap minggu pagi. Masih rutin menjadi pelatih Taekwondo di pusat pelatihan kepolisian dan selalu hadir dalam pertandingan menembak cepat di Senayan.

AKP Zabar memberikan hormat kepada Hendra, sementara sang Informan tersenyum rapat kepada seorang sahabat.

“Azra,” ucap sang komandan.

“Pak Hendra,” jabat tangannya sambil berjalan masuk ke ruangan tempat korban tewas.

Melangkah masuk ke dalam ruangan, hidungnya langsung mencium bau alcohol yang harum, mungkin dari sejenis anggur putih pikirnya. Mungkin ini yang menyebabkan korban meninggal.

Tepat di bawah hidungnya, ia pun melihat ada sisa basah di lantai. Mungkin tadinya, sebuah botol tergeletak di sini. di samping lengan korban. Perlahan ia memperhatikan tubuh korban dari bawah ke atas. Jasad korban yang terlentang di lantai, kepalanya menghadap ke langit-langit.

“Ini alasannya kenapa saya memilih kamu,” tegas Hendra.

Azra perlahan membelalak, ia mengenali wajah jasad itu.

“Bastian Michaelis,” ucap lidahnya kelu.

“Iya,” Hendra mengangguk. “karena dia adalah mantan klien kamu.”

Si laki-laki sedikit tersentak.

Bagaimana mungkin dia tahu? Namun suara lain berkata. Tentu saja Hendra Wiryawan tahu, karena dia adalah Komandan dari Baintelkam, Tim intelijen yang paling dihormati di seluruh kepolisian.

Mata si laki-laki memutari ruangan. “Jadi bagaimana?”

“Saat ditemukan, jasad korban tertelungkup di sana,” tunjuk Hendra ke lantai putih.

“Tidak ada bekas perkelahian ataupun jejak darah, semua dieksekusi dengan bersih, hanya ada bekas pitingan dan tusukan jarum suntik yang sangat kecil di lehernya.”

Dengan cepat si dokter berkacamata besar dan dua petugas medis lain memasukan jasad tersebut ke kantong plastik besar.

Si dokter yang mengemasi mayat pun ikut bicara. “Korban tewas karena serangan jantung,” tangannya menunjuk ke dada si mayat. “Namun bisa jadi ada pemicu eksternal yang menyebabkan serangan jantung tersebut.”

“Anda yakin?” tanya si laki-laki

“Iya, dari tanda-tanda fisiknya. Tapi kami akan melakukan otopsi lebih lanjut.”

Ia mengangguk, lalu melirik ke Hendra Wiryawan. “Jadi bagaimana komandan?”

Tapi AKP Zabar yang justru bicara. “Kami ingin membereskan masalah ini sebersih mungkin, kami bahkan tidak menulis kematian korban sebagai kasus pembunuhan.”

Tentu saja, mengingat korban adalah kandidat Ketua KPK tahun ini. Kematian mendadaknya pasti bakal heboh jika ditulis sebagai pembunuhan, apalagi mengingat media sedang marak-maraknya menyoroti KPK dan POLRI.

Namun sang Informan tidak menggubris ucapan si Kapten Polisi, matanya justru menembus ke Kombes Pol Hendra Wiryawan.

“Saya mengerti, tapi maaf Dan tidak banyak yang bisa saya bantu.”

“Apa maksudnya ini,” bentak AKP Zabar yang jelas tidak sabaran.

Azra memiring kepala dan balas menatapnya. “Gue tidak menjadi penyelidik lapangan lagi.”

“Apa-apaan ini,” teriak si Kapten Polisi. “Kami sudah menunggu lama, berramah-tamah, mengantar Anda ke ruangan, dan Anda bilang tidak jadi menyelidiki.”

Ia paham betul tipikal orang seperti ini, Zabar tak lebih dari polisi penjilat yang sok tahu dan sok terlihat gagah. Dia berteriak-teriak sangar hanya untuk mengejar pangkat dan dipuji oleh atasannya.

Sepengalamannya, rasanya nggak mungkin seorang Hendra WIryawan memasukan orang seperti Zabar di dalam Timnya, nggak mungkin, kecuali jika sangat terpaksa atau ada titipan dari komandan yang lain.

“Kapan gue pernah bilang akan menyelidiki kasus ini,” ia melawan dengan balik melotot. “Gue ke sini cuma menjemput teman gue, Lufin.”

Nama yang dipanggil pun menengok ke belakang. Terlihat wajah datar si pemuda berkulit putih berwajah oriental. Lufin atau biasa mereka panggil si muka zombie.

“Oke, terserah kamu mau menyelidiki atau tidak,” ucap sang komandan sambil memainkan jari telunjuknya. “Tapi jika ada hal-hal yang terkait dengan diri kamu, saya tidak akan bertanggung jawab,” ada seringai di bibir Hendra Wiryawan.

Lalu ia memberi tanda kepada kedua petugas ambulance untuk mengangkut jasad Bastian ke bawah.

Zabar pun turun mengikuti sang Komandan.

Lantai dua pun menjadi sepi, hanya tinggal Azra dan Lufin bersama dengan ruangan yang berantakan dengan bau alkohol hasil olah TKP para petugas sebelumnya. Azra tersenyum sendiri, ia paham, si komandan sengaja meninggalkan mereka untuk melihat-lihat sebentar TKP.
.  .  .


Azra jarang punya rekan yang bertahan lama. Kebanyakan mereka pergi jauh, menghilang, mencari pekerjaan baru, berkhianat, atau sudah tewas dibunuh orang dalam sebuah misi, kecuali yang satu ini, Ikhsanul Arifin alias Lufin.

Ia mengenal si pemuda 7 tahun yang lalu, saat menyelidiki kasus pembunuhan di daerah Depok. Kasus meninggalnya seorang mahasiswa, anak dari anggota TNI Angkatan Udara. Tiga bulan kasus itu molor dan tak dapat dipecahkan oleh para polisi di sana. Seorang komandan yang ia kenal menghubungi dan memintanya untuk menyelidiki kasus tersebut dan menemukan siapa pembunuh sebenarnya.

Di sana, ia bertemu si mahasiswa berwajah pucat dan mengaku detektif kampus. Seorang yang freak, keras kepala, agresif, liar, dan angkuh seperti dirinya. Dan kini putaran roda itu kembali terulang. 

“Jadi lo kenal dengan korban?” tanya Lufin yang duduk di lantai dan bersadar pada pinggiran kasur.

Azra mengangguk. “Iya, dia mantan klien gue. Tapi sudah lama gue nggak bertemu dengan dia, terakhir 3 tahun yang lalu, dia meminta gue untuk mencari beberapa data dari internet.”

“Mantan lo seorang calon ketua KPK, ini bakal heboh” ucapnya disusul tawa.

Azra hanya menekuk muka, ia sedang tak ingin berbasa-basi.

“Jadi gimana detailnya?”

 Lufin pun menggerakkan jarinya. “Tadinya ada botol Wine yang pecah di sini,” tunjuknya ke lantai di mana terdapat garis kapur putih yang menggambarkan posisi korban.

“Yang menemukannya?”

Lufin membuka catatannya. “Mira Rosa, istrinya, tepatnya istri kedua, dan saat ditemukan pintu kamar ini sudah terbuka. Korban ditemukan pukul 8:30 tadi, lalu dari tanda-tanda kekakuan mayat, dokter memperkirakan korban tewas sejak tadi sore antara pukul 5 sampai pukul 6.”

“Oke, terus.”

“Sekitar jam delapan itu, si istri pulang, dia naik ke atas dan menemukan suaminya sudah tergeletak dilantai dengan sebuah botol yang pecah.”

“Lalu?” ia berjalan dengan mata yang terus menelusuri lantai.

“Si istri panik” tangan Lufin bergerak menjelaskan. “Dia berteriak-teriak minta tolong, dan kebetulan, ada pembantu yang tadi pergi bersamanya, si pembantu kemudian meminta pertolongan dari satpam di depan.”

“Kemudian ada tiga orang satpam naik ke sini, dan salah satunya memeriksa korban yang sudah tak bernapas. Kemudian si kepala satpam meminta si pembantu untuk menelpon rumah sakit dan meminta ambulance, dia bilang semoga masih ada harapan, lalu ada satpam lain yang berinisiatif menelpon Polsek Pondok Indah. Operator di polsek pun agak terkejut mendengar nama yang meninggal yaitu Bastian Michaelis yang merupakan kandidat ketua KPK. Operator lalu menghubungi atasanya, dan atasannya lalu menghubungi Kompol Hendra. Kebetulan dia sedang berada di sekitar Pondok Indah, lalu situasinya seperti yang kita hadapi sekarang.”

Azra menggosok dagu. “Serius, keterangannya rada anehloh. Yang satu menelpon rumah sakit dan yang satu menelpon Polsek, tapi yang datang ke sini duluan malah Kombes Pol Hendra.”

“Hah,” Lufin sedikit tersentak. “Iya ya, gue baru nyadar itu.”

“Oke, tandai dulu itu. Apalagi yang lo temukan di sini?”

“Ada pecahan botol di sini, tapi mereka sudah bersihkan.”

“Iya, gue paham, mereka sudah menyapuh petunjuk-petunjuk krusial.”

Ia melangkah mundur ke sudut ruangan memandang pintu itu lebih luas lagi. Hal-hal yang bagi orang lain tidak penting, bisa menjadi kunci yang sangat penting dalam memecahkan kasus. Azra memicingkan mata ke pinggiran pintu yang rusak dan sekejap ia menemukannya.

“Oke, ke pertanyaan mendasar. Saat pertama kali dia naik ke atas sini, saat pertama kali dia menemukan jasad korban. Apa si istri ini bersama orang lain?”

“Tidak.”

“Apa dia melihat pintu terkunci?”

Lufin menggeleng. “Katanya sih, saat ditemukan pintu sudah terbuka.”

Tangan Azra terus menelusuri pintu, kemudian di baliknya ia menemukan hal yang aneh.

Kenapa ada garis dan potongan benang di balik pintu ini? Perlahan otaknya membuat visualisasi dari garis-garis yang ia lihat. Garis-garis itu terhubung membentuk triangulasi dengan handle pintu bagian dalam hingga ke handle pintu bagian luar. Seseorang menarik benangnya dan mekanisme itu berjalan mengunci pintu dari dalam.

“Saat ditemukan apa ada kunci yang menggantung lubang pintu?”

“Tidak, kami menemukan kunci itu berada di lantai.”

“Kemudian petugas memasukan kembali kuncinya, ke lubang ini” tunjuk Azra

“Iya.”

“Oke, gue ngerti kronologinya sekarang. Si istri yang pertama kali naik ke atas sini, pintu ‘kata dia’ sudah terbuka, dia menemukan jasad si suami, dia berteriak lalu orang-orang yang ada di sekitar sini berdatang. Dan membuat keadaan seperti yang kita lihat sekarang.”

Lufin mengangguk. “Iya.”

“Ngomong-ngomong lo lihat ini,” jari Azra menarik benang tipis yang terikat pada anak kunci. “Menurut lo ini apa?”

Dia memicingkan mata. “Sebuah benang.”

“Iya,” Azra membalik pintu dan menunjukan garis-garis yang nyaris tak terlihat di temboknya. “Kalau ini apa?”

Lufin tersentak, garis-garis ditembok itu membentuk segitiga yang transparan. “Jangan-jangan… Mekanisme ruang terkunci?”

Azra memasang wajah licik. “Iya, itu yang gue pikirkan.”

Untuk beberapa detik mereka berdua terdiam.

Kasus ini jauh lebih menarik daripada yang mereka harapkan.

Jari si laki-laki bergerak mengikuti garis yang membentuk segitiga besar di balik pintu. “Serius, lo gak lihat ini dari awal?”

Si rekan menggeleng.

“Tadi gue lebih fokus pada mayatnya, dan untuk masalah pintu sudah ada petugas lain yang memeriksanya.”

Azra mengadu gigi. “Alasan saja.”

Si pemuda pun tertawa remeh. “Hehe, sorry Boss, manusiawi.”

“Huh, gue rasa Pak Hendra pasti tahu hal ini.”

“Pastinya Boss!”

“Kembali lagi pertanyaan gue, harusnya ruangan ini terkunci namun tidak kunci?” kali ini ia bangun dari posisinya.

Si rekan hanya menggosok dagu tak mampu menjawab. 

Tangan Azra yang berselimut glove terus bergerak di sudut-sudut pintu. Ia lalu memutar handle dan “Tik” terlihat ada baut yang lepas. Ia pun mencoba memutar kunci yang berada di lubang dan “Klik” batang pengunci itu langsung patah.

“Pintu yang harusnya terkunci dari dalam namun saat ditemukan sudah terbuka, menurut lo apa yang terjadi?”

“Seseorang mendobraknya!”

“Iya, tapi yang lebih penting lagi, saat si saksi utama datang pintu ini sudah terbuka, itu berarti…”

Lufin mengangkat dagu, ia baru menyadarinya. “Ada orang lain di sini, sebelum si istri datang.”

Azra menyeringai. “Semoga saja si istri ini jujur dengan segala keterangannya.”

Mereka pun kembali bergerak memutari ruangan dengan mata yang terus menelusuri lantai, seolah mereka melihat jejak yang tak kasat mata.

“Ini sekedar hipotesa, satu dari berbagai macam kemungkinan yang bisa terjadi. Menurutku akan sangat menarik jika ada dua orang atau mungkin lebih di sini. Salah satunya adalah si pelaku pembunuhan dan satu lagi mungkin orang yang mengejar si pembunuh –atau mungkin juga dia ingin melakukan pembunuhan, namun dia terlambat karena si target sudah tewas oleh pembunuh lain. Oke, akan ada banyak teori dari turunan kasus seperti ini.”

Lufin tersenyum. Seperti biasa Azra Lazuardi menunjukan taringnya.
.  .  .


Beberapa detik kemudian, Azra balik badan dan berjalan mundur di ruangan. Ia memindai tempat itu dengan pandangan yang lebih luas.

“Menurut lo apa penyebab kematian korban?”

“Tadi lo sudah dengar bukan, kata si dokter, dia meninggal sebab serangan jantung.”

 “Lo yakin? Alasannya!?”

“Hmm, dia bilang karena si korban punya tanda-tanda itu, ada warna kebiruan di hidung, leher, dan dada korban,” Lufin menunjukan foto si mayat di kamera.

Sang Informan menggeleng dengan wajah kecewa. Kesimpulan sebab kematian diambil terlalu cepat oleh si dokter dan kedua serangan jantung itu sendiri, memiliki tanda-tanda pasca kematiannya terlalu umum dan untuk beberapa kasus sulit dikenali.

Azra mengernyit kesal, namun tak beberapa lama ia mengembang senyum. Kasus ini adalah sebuah tantangan yang sangat-sangat menyenangkan.

Melirik ke kamera, ada nyaris 50 foto di situ, ia dengan cepat melihat satu persatu hingga sampai di foto nomor sebelas. “Ini garis biru kecil apa menurut lo?”

“Seperti bekas luka, eh bukan guratan, mungkin tanda dibekap itu.”

“Iya, kelihatannya begitu,” lalu jarinya menunjuk ke foto yang lain. “Menurut lo ini apa?”

“Itu seperti bekas jari.”

Jari si laki-laki naik ke bibir, pikirnya mencoba merekontruksi apa yang sebenarnya terjadi.

“Seperti yang tadi dibilang dokter Budi,” si rekan mengulang lagi. “Hipotesanya, korban disuntikkan racun yang membuat dia terkena serang jantung.”

“Ck, asli ini ribet!”

“Sangat!”

“Lo yakin dengan yang diucapkan si Budi itu?”

“Yakin sih, kalau nggak gimana dia mempertahankan reputasinya di muka sang Komandan.”:

Si laki-laki terdiam serius sambil menggaruk dagu.

“Lagipula –seperti yang pernah gue baca, tanda-tanda kebiruan itu sesuai kok dengan ciri-ciri fisik korban yang meninggal karena serangan jantung.”

Azra menggeleng. “Ck, asli ini benar-benar ribet nggak masuk di logika orang sehat.”

Si rekan tertawa. “Ya iyalah, pembunuhan macam ini mana ada yang disebut waras.”

Ia juga ikut terkekeh. “Menurut lo gimana? Apa yang ada dipikiran si pelaku? Dia bisa saja milih alat pembunuh yang lain bukan, pisau, pistol, kabel, dan seterusnya?”

“Hmm, mungkin dia ingin melakukannya secara bersih.”

“Kalau ingin bersihkan, bisa saja dia menggunakan racun pada makanan atau minuman?”

Lufin membelalakan mata. “Hmm, iya ya, lo benar. Terus gimana menurut lo?”

Si laki-laki berjalan sambil tangan kirinya menggosok dagu, ia terdiam hampir satu menit.

Hingga ia menemukannya.

“Ah, itu dia, Pelaku ingin membuat kesan kematian korban terjadi secara alami. Tapi yang jadi pertanyaan, jika dia ingin membuat kesan alami, kenapa dia harus membuat ruang terkunci? Bisa saja, dia membiarkan pintunya terbuka, toh dia membuat korban tewas karena serangan jantung dan bukan tindak kekerasan.”

“Mungkin dia ingin menguatkan penyebab kematian?”

“Tidak, tidak, harusnya dia tidak perlu repot membuat mekanisme ini.” Azra kembali berjalan dari kiri ke kanan. “Jika gue pelakunya dan ingin menguatkan penyebab alami, gue akan mengunci ruangan dengan kunci biasa, dan nggak akan repot bermain dengan jarum dan benang. Atau mungkin nggak perlu mengunci ruangan”

“Hmm, mungkin dia ingin show off, dia ingin menunjukan kalau dia lebih pintar dari kita.”

“Iya, bisa jadi. Yang pasti siapa pun dia, dia sangat arogan.”

“Mungkin karena darah mudanya” seloroh Lufin.

Azra tertawa getir. “Pastinya.”

Si rekan menepuk-nepuk debu di kedua tangannya, seolah ingin segera mengakhirnya kunjungan di TKP. “Ngomong-ngomong benaran kita nggak ngambil kasus ini?”

“Iya, beneran,” mukanya menatap ke arah lain. “Oh iya, ruangan lainnya gimana?”

“Belum, belum gue lihat” ujar Lufin.

Sang Informan dengan bergegas berjalan keluar ruangan.

Si rekan jelas paham kebiasaan ini. Apa yang diucapkan berkebalikan dengan apa yang dilakukan. Azra terus bergerak menuruti kakinya yang berjalan sendiri, seolah menelusuri jejak dari sang pelaku sampai masuk ke ruangan sebelah. 

“Apa yang elo cari?”

“TIDAK ADA, kita nggak akan menyelidiki apa-apa.”

Lufin tersenyum simpul. Seperti biasa, Azra melakukan apa yang dilarangnya sendiri.

Ia melangkah cepat lalu berhenti di antara dua kamar.

Dengan persiapan jarum dan benang, jelas si pelaku ingin keluar sesantai mungkin dari pintu depan rumah. Sialnya, ada orang lain di sana yang juga mencari korban. Azra bisa membayangkan. Si pelaku gusar, dia tidak bisa kabur dari pintu depan ataupun belakang. Si pelaku bisa saja menghabisi korban, tapi itu akan menambah permasalahan lain, ia bisa saja bersembunyi di sudut ruangan, tapi resiko untuk ditemukan juga cukup besar.

Untuk situasi seperti ini. Satu-satunya solusi adalah kabur dengan melompat dari jendela. Tapi, jelas si pelaku tidak keluar dari jendela kamar di mana korban ditemukan, ia memilih ruangan lain untuk kabur.

Azra memasuki kamar di sebelah kanannya, kamar ini lebih kecil. Tidak ada kasur ataupun karpet yang digelar di lantainya, hanya ada tiang besi memanjang di mana banyak pakaian wanita digantung di sana. Ia berjalan ke arah jendelanya dan membukanya tanpa bicara. Ia menengok ke kanan dan kiri. Lalu ia beranjak ke kamar lain yang berhadapan dengan kamar tersebut, kembali ia membuka jendela-nya tanpa bicara. Berhenti sejenak, lalu kembali ke kamar yang penuh dengan pakaian itu.

Mata itu terus memindai, berputar berlawanan arah jarum jam.

Harus bisa melihat sekali pada TKP, harus bisa melihat sekali pada TKP. Hal-hal yang bagi orang lain tidak penting, bisa menjadi kunci yang sangat penting dalam memecahkan kasus.

Dan tak lama, ia pun menemukannya. Potongan kecil kertas merah yang terselip di pinggiran jendela.

“Apa yang lo lihat?” tanya Lufin menyentak rekannya. 

Azra pun melirik balik sambil berujar. “Cara pelaku untuk kabur dari rumah”

“Gimana?”

“Tentu saja dia melompat dari kamar ini” Azra pun menunjuk plafon yang berada di bawah jendela yang memayungi samping rumah. “Hipotesis gue, dia turun dari sini, berjalan di plafon lalu melompat ke bagian belakang rumah, dia naik di tembok itu dan kabur melalui rumah tetangga itu.”

“Masuk akal,” ucap Lufin.

Azra kembali melihat ke sudut jendela, ke potongan kertas merah. Ia lalu menariknya.

“Itu apa?” tanya Lufin.

“Mungkin bukan apa-apa,” ujarnya sambil tangannya dengan cepat memasukan potongan kertas itu ke dalam kantung plastik kecil.  “Tapi, adakalanya sesuatu yang kecil, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain justru adalah kunci untuk memecahkan kasus.”
.  .  .


Tak sampai sepuluh menit berada di lantai dua.  Mereka turun ke bawah dan berhadapan kembali dengan Kombes Pol. Hendra.

“Jadi bagaimana?” tanya sang Komandan.

“Maaf Pak Hendra, seperti yang saya bilang tadi, saya tidak akan mengambil kasus ini.”

“Tapi kamu sudah melihat TKP-nya bukan,” Hendra melakukan persuasi. “Ini kasus yang sangat menarik, banyak teka-teki dan misteri, biasanya kamu sangat antusias dengan hal seperti ini, apalagi korban juga orang yang kamu kenal bukan.”

“Bukannya merendahkan,” si laki-laki berbicara dengan dingin. “Tapi dengan kemampuan dan pengalaman Anda sebagai penyelidik, Anda pasti bisa memecahkan kasus ini sendirian. Dan tentang korban, dia hanya mantan klien saya, sejujurnya, saya tidak pernah kenal siapa dia sebenarnya!”

Beberapa polisi menatap aneh wajah Azra.

Sedangkan Kombes Pol Hendra memaklumi sikap sang Informan, ia tahu, Azra pasti punya alasan penting tersendiri –apalagi ada kekasih di sampingnya yang tampak cemas sedari tadi. Si laki-laki langsung turun memohon pamit, disusul oleh Lufin, dan Sophie yang terlihat menganggukan kepala seperti orang Jepang memberi hormat.
.  .  .


Di seberang jalan, di antara keramaian.

Banyak orang awam yang berpikir pelaku tidak akan kembali ke TKP. Tapi mereka salah, Lelaki Bulan kembali ke TKP pembunuhannya. Dari pertigaan di depan rumah minimalis itu, di antara orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi. Lelaki Bulan melihat tiga orang dengan gelagat aneh yang keluar dari pintu rumah Burhan Simamorang. Ia melihat dengan jelas raut wajah mereka, cara berjalannya, gerakan tangannya, genggamannya, potongan rambut serta pakaiannya.

Mereka jelas bukan polisi, melainkan warga sipil. Tapi, Lelaki Bulan tahu, mereka bukan orang sembarangan.

Yang pertama melangkah keluar dengan gagah seorang pria muda dengan wajah seperti mantan atlet pencak silat yang menjadi bintang film, yang satu lagi seorang perempuan cantik berparas Arab dengan mata besar seperti burung hantu, dan seorang pemuda pucat dengan gestur yang agak bungkuk.

Tentu saja, untuk kalangan intel dan penyelidik profesional, tiga nama itu sangat terkenal; Azra, Sophie, dan Lufin. Mereka adalah penyelidik yang dipanggil untuk keadaan yang tidak lazim seperti sekarang.

“Menarik, ternyata Kota ini punya pasukan khusus di balik bayangan,” ujar Lelaki Bulan dalam benaknya. “Aku harus mengunjungi salah satu dari mereka.”

Tak sampai 5 menit di sana Lelaki Bulan masuk ke mobil.

Tangan masih menggenggam keras kemudi, terasa denyut dan getaran yang belum reda. Bukan rasa takut yang menghinggapi dirinya, melainkan adrenaline yang mendidih, bersiap untuk melakukan aksi yang jauh lebih spekta dari apa yang terjadi sekarang.
.  .  .

4 comments:

  1. Nb: Ebook novel TRIAD KEMATIAN sudah tersedia di Playstore, silahkan.

    ReplyDelete
  2. Kimono hitam dan jaket orange berlogo pusaran air.. wkwkwkw ,subarashii

    Sukses untuk novel Triad, kalau sudah baca buku nya pengin segera saya review di blog..

    ReplyDelete
    Replies
    1. @ Gogo, wah thank you sudah mampir.

      Delete
    2. Iya, silahkan di download. Ebooknya tersedia di Playstore / Playbook !!

      Delete