Wednesday, July 15, 2015

Ngalor-ngidul tentang

Lingkaran Setan di industri kreatif Indonesia

by Ftrohx


Sore, tadi akhirnya gw ke Gramed Bintaro setelah sekian lama tidak ke sana.

Banyak yang berubah, tapi justru perubahannya nggak sesuai yang gw harapankan. Berada di sana, meski setalah lama tidak ke sana, entah kenapa gw merasa boring.

Beberapa buku best seller yang dipajang masihlah buku lama karya-nya Tere Liye, Dan Brown, Dee Lestari, Sherlock Holmes, Lexie Xu, dan seterusnya. Yang lain adalah beberapa buku luar, seperti Hunger Games, Mocking Jay, City of Bones, Divergent series, Maze Runners, dan teman-temannya. Sementara di buku komedi masih bertengger buku-buku lama Raditya Dika.

Satu-satunya yang membuat gw masih betah di sana adalah sudut komik Jepang. Gw membaca beberapa komik yang nggak sempat gw baca di internet.

Setelah dari sudut komik, tujuan lain gw berada di Gramed adalah sudut majalah. Sayangnya, sudut itu telah diubah oleh pengelola sehingga hanya tinggal setengahnya saja, setengahnya lagi dijadikan rak tempat pulpen dan aksesoris tulis-menulis lainnya.

Tapi itu hanya susunan rak yang sebenarnya nggak begitu masalah buat gw, yang jadi masalah adalah majalah yang gw cari Animonster dan teman-teman sudah nggak kelihatan lagi ada di sana.

Ok, pilihan gw jadi makin sedikit yang tersisa hanyalah beberapa majalah wanita; Femina, Cosmopolitan, Gadis, dan seterusnya, juga majalah FHM Indonesia, Popular, Men Health, dan iya hanya itu aja ditambah beberapa majalah bertema hobi.

Gw membuka beberapa dari mereka, membalik halaman demi halaman, yang kebanyakan adalah foto iklan produk fashion, dan sebagainya. Gw bertanya-tanya sendiri "Kok nggak ada artikel yang menarik ya??"

Entah gw yang aneh, atau mungkin selera dan trendnya sudah berubah? Kok yang gw lihat kebanyakan hanya foto dan foto produk, di mana artikelnya? Tulisannya sangat minim, lebih banyak foto. "Di mana interview atau ulasan-ulasan topik seperti dahulu yang sering gw temukan di majalah? Kok nggak ada ya?"

Ok, gw meninggalkan mereka dan beralih ke majalah lain, majalah Cinemags, dari dulu gw suka Cinemags, gw suka ulasan-ulasan filmnya, kadang mereka juga mengkritik film-film tersebut, dan kadang ada interview yang tidak ada di majalah ataupun media-media lain.

Namun pas gw buka, ulasan-ulasannya sama, ini tidak seperti yang gw harapkan. Kebanyakan review yang ada tidak jauh beda dari yang gw lihat di media online / Cinemags di Facebook yang hampir setiap hari gw ikuti, bahkan versi Facebook jauh lebih update dan detail daripada versi majalah.

Tapi ada satu artikel yang menarik gw di sana, artikel yang mungkin sudah sering kalian dengar di social media dan semacamnya, tentang industri perfilman Indonesia yang belakangan minim atau lebih tepatnya ditinggalkan penonton. Dari Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, dan Habibie-Ainun yang mendapat lebih dari 4juta penonton, sekarang nge-drop di tahun 2015 dengan film seperti Van Der Wicjk, Merry Riana, 99 Cahaya, dan seterusnya yang bahkan tidak sampai 1juta penonton.

Si penulis membuat hipotesi, kenapa penonton film Indonesia bisa begitu nge-drop; pertama mulai dari masalah kualitas, dia bilang kebanyakan penonton Indonesia sudah kapok nonton film Indonesia di bioskop, kebanyakan film Indonesia ya itu-itu aja, drama romansa yang bisa ditonton di televisi. Kedua masalah promosi, kemudian masalah berapa lama sebuah film bertahan di layar bioskop, ataupun masalah jatah layar untuk film-film Indonesia, hal-hal teknik menurut saya.

Sebenarnya gw sendiri, ngelihat banyak hal yang paradoks kalau membicarakan masalah promosi film. Host-host Entertaiment News selalu bilang "Bangga film Indonesia" tapi di sisi lain tiap hari mereka heboh mempromosikan film luar negeri (terutama Hollywood) dengan JAUH LEBIH BANGGA. Ok, saya sendiri juga begitu sih! Hahaha... Paradoks orang Indonesia.  Iya, kembali lagi kita sebagai makhluk ekonomis selalu berpikir tentang mana yang lebih menguntungkan. Bisa diibaratkan pergi ke bioskop itu seperti dihadapkan dua pilihan barang; yang satu original dan yang satu KW namun dengan harga yang sama. Tentu saja, kita akan membeli yang kualitasnya lebih bagus. 

Bicara tentang kualitas, kita bicara tentang lingkaran setan dalam industri kreatif Indonesia.

Kenapa kualitasnya gak bagus? Alasannya tentu saja karena kita kekurangan sumber daya. Kenapa kita kekurangan sumber daya? Karena kita kurang modal; baik itu orang, pengetahuan, dan yang paling penting sumber daya uang. Kenapa kita kekurangan uang? Karena kita kekurangan investor, kita kekurangan sponsor yang berpikir tentang apakah dana yang mereka tanamkan dapat memberi keuntungan, tentu saja untuk memberi keuntungan yang mereka pikirkan adalah apakah film-nya berkualitas? Dan bicara kualitas, kita kembali lagi ke titik pertama dari lingkaran setan ini.

Orang-orang awam bilang bahwa Industri kreatif (musik, film, dan literatur) adalah industri yang tidak pasti, tidak jelas apakah akan menguntungkan atau tidak di masa depan, karena tidak memiliki kepastian mereka bilang bahwa baiknya industri kreatif dijadikan sebagai hobi dan bukan sebuah pekerjaan. Ok, mereka benar industri kreatif memang tidak menguntungkan, tapi kenyataan mereka hidup sekarang karena adanya industri kreatif, musik yang mereka dengar, film yang mereka tonton, dan artikel ngalor-ngidul yang mereka baca semua adalah hasil dari industri kreatif.

Ok, industri kreatif memang tidak menguntungkan tapi lihat berapa banyak orang yang hidup makmur dan dipuja banyak orang dengan hasil kreatifitias mereka.

Mereka bilang bahwa produk dari industri kreatif tidak bisa diukur atau diprediksi masa depannya,

Kalau gw bilang sebaliknya, keuntungan dan kerugian di industri kreatif bisa diukur.

Bagi teman-teman yang pernah kuliah statistik pasti mengenal gagasan tentang analisa multivariat atau analisa multifactor.

Kegagalan dan kesuksesan terjadi bukan karena satu atau dua hal tetapi banyak faktor yang mendukung. Ok, ambil contoh Ayat-Ayat Cinta versus Supernova, keduanya dibuat berdasarkan novel bestseller yang sangat fenomenal pada masanya. AAC menembus 3,5 juta penonton sedangkan SKPB hanya 500ribu penonton.

Padahal menurutnya saya keduanya memiliki ide yang bagus, terlebih Supernova dengan budget yang gila-gilaan, visual yang keren, dan jajaran artis top Indonesia. Sayangnya kenapa dia nggak sampai menembus 1juta penonton. Hipotesis saya, jelas karena persaingan yang ketat, film ini diluncurkan pada bulan Desember dimana dia bersaing bukan hanya film-film lokal seperti Di Balik 98 dan Merry Riana, namun juga film-film Hollywood yang keren di akhir tahun 2014.

Permasalahan lain menurut saya, karena novel ini terlalu lama baru dibuat film. Supernova: Ksatria Putri Bintang Jatuh terbit di tahun 2001an, sedangkan baru dibuat film 14 tahun kemudian. Tidak salah sih, namun jika dibandingkan dengan AAC yang menjadi best seller di tahun 2005-2007an dan dibuat versi film pada thn 2007an. Mereka mengambil momen yang tepat, sama halnya dengan buku Habibie dan Ainun, yang sedang heboh-hebohnya pada thn 2010an dan dibuat film setahun kemudian, jelas mereka tidak kehilangan momen.

Faktor utama lain, jelas karena Indonesia selalu diadu dengan film Hollywood, promosi yang jelas kurang, plus kesadaran masyarakat yang kurang. Kebanyakan teman-teman saya bertanya, memangnya ada film Supernova? Supernova itu apa sih, nggak tahu gw, nggak sepopuler Marvel ya? dan seterusnya.

Kembali lagi gw teringat saat gw masuk ke Gramed tadi sore. Masalah utama lainnya adalah 'buku' atau 'membaca buku' bukanlah populer untuk orang Indonesia, atau istilah kuno-nya "MINAT BACA YANG KURANG"

Ini masalah, bukan hanya untuk para penonton dan konsumer, melainkan juga bagi para produser, penulis, sutradara, editor, dan orang-orang dibalik layar lainnya. Karena kita kurang baca, kita nggak tahu standar apa yang sebenarnya kita punya, kita nggak tahu kalau ada orang yang menciptakan karya yang bagus, dan sekalipun kita tahu kadang kita kurang peduli. Iya, mungkin gara-gara Indonesia kebanyakan orang ekstrovert yang lebih peduli ngomongin kejelekan orang-orang disekelilingnya daripada membicarakan karya-karya industri kreatif.

Sebenarnya gara-gara orang Indonesia kurang suka baca, menimbulkan lingkaran setan juga dalam industri kreatif.

Karena orang Indonesia kurang minat dalam membaca, maka kebanyakan tulisan yang ada ya hanya itu-itu saja. karena kurang minat baca, maka editor lebih memilih genre yang jelas penjualannya seperti buku-buku teenlit romance, sedangkan thriller yang masih belum jelas penjualannya lebih dihindari oleh para editor. Kecuali jika penulis thriller tersebut sudah punya nama. Dan masalah lain lagi, sekalipun ada buku thriller yang terbit, biasanya standar novel thriller tersebut dibawah rata-rata.

Oh iya, dampak permasalahan dunia buku fiksi juga berimbas pada film. Hipotesanya; untuk sebuah film yang bagus dibutuhkan ide yang bagus, dan ide yang bagus bisa didapatkan dari buku/novel yang bagus.

Semakin banyak ide bagus berkeliaran di masyarakat, semakin banyak ide-ide modern yang tersebar, maka film yang dihasilkan akan juga lebih modern. Dalam hal ini seperti di Hollywood dimana bukan hanya film dengan visual effect yang keren, tapi juga film-film yang membawa gagasan rumit seperti Inception misalnya sangat diapresiasi di sana. Tentu saja, masyarakat kita belum siap untuk film-film dengan gagasan tersebut. Novel yang bagus bisa menghasilkan film yang bagus, sedangkan novel yang standar akan menghasilkan film yang standar. dan ini terus menjadi lingkaran setan kenapa kebanyakan film Indonesia yang diadaptasi dari novel-novel menjadi film kelas B.

Hipotesis gw untuk memperbaiki film Indonesia, bahwa kita harus punya karya-karya literatur yang bagus, bukan hanya filosofi atau romance tapi novel thriller yang bagus.  Masalahnya seperti lingkaran setan, untuk menciptakan karya thriller yang bagus kita mesti punya lingkungan akan thriller yang bagus, kita mesti punya ekosistem persaingan antar penulis thriller hingga ke para pembaca yang menunggu karya-karya thriller tersebut. 

Tapi, kembali yang jadi masalah utama dalam dunia literatur Indonesia; masalah KEPEDULIAN dan MINAT MEMBACA. Apakah kita mau peduli dengan sebuah buku yang tergeletak di rak-rak buku, dan apakah kita bisa membuat orang melirik tulisan kita? Apakah kita bisa membuat orang mau membacanya? Itulah yang jadi pertanyaan terutama untuk diri gw sendiri.

.  .  .

No comments:

Post a Comment