Monday, July 27, 2015

Mencurangi Masa Depan

by Ftrohx


Menurut teori fisika, selalu ada versi lain dari diri kita, mereka menyebutnya versi alternatif atau percabangan alam semesta atau dunia paralel. Dunia yang berbeda karena satu pengambilan keputusan dari satu orang yang berbeda.

Coba bayangkan jika hari ini lo memutuskan untuk menonton film di bioskop atau tidak menonton film di bioskop, hasilnya akan berbeda satu reaksi menciptakan reaksi berantai dan reaksi berantai tersebut menciptakan realita di mana elo berada sekarang.

Memang kecil, memang tidak terlihat, tapi jika lo mengambil satu keputusan berbeda maka masa depan lo akan berbeda, bukan hanya itu masa depan orang-orang di sekitar lo juga ikut berbeda, kecuali apa yang sudah ditakdirkan.



Ok langsung aja, kemarin gw baca artikel yang membahas lengkap tentang apa sih yang terjadi di dunia Terminator dari film Terminator I di thn 1980an hingga Terminator terakhir di thn 2015 kemarin, termasuk juga versi TV-nya Sarah Connor Chronicle. Si penulis benar-benar serius menggarapnya analisa dan deduksinya sampai 5ribu kata plus gambar grafis di white board-nya yang dia foto sendiri (foto-nya HD pula jadi berat gw simpan file-nya)

Ada beberapa hukum umum dan hukum khusus yang berlaku dalam fiksi Time-Travel di Hollywood. Hukum yang wajib dan berlaku bagi semua (nyaris semua) film Hollywood yang mengambil tema Time-Travel


Pertama, Percabangan Waktu

Ketika lo punya Time-Machine, entah itu TimeMachine ala H G Wells, Guy Pearce, Doraemon, Prince of Persian, Terminator, De Javu Denzel Washington, Back To The Future, Butterfly Effect Aston Kutcher, Wolverine Future-Past, Star Trek Next Generation, Hermione - HarPot Azkaban, atau apapunlah.

Ketika lo pergi ke masa lalu, lo melakukan sebuah perubahan kecil, atau lo memaksakan diri untuk mengubah takdir. Maka, akan tercipta percabangan waktu yang baru.


Kedua, Fixed Destiny

Meski ada percabangan waktu tetap takdir Tuhan tidak dapat diubah, sebagai contoh kekasih si Profesor di film Time Machine, dia ditakdirkan mati dan si Profesor mencoba menyelamatkannya karena itu dia menciptakan mesin waktu.

Namun si cewek tersebut tetap mati berapa kalipun dia mencoba menyelamatkannya, justru kematian dengan berbagai macam cara,

Contoh lain Kyle Reese melihat foto Sarah Connor sebelum dia pergi ke masa lalu, di versi Terminator yang pertama hal ini tetap dia lakukan, begitupula di versi yang tahun 2015 ini juga tetap dia lakukan, dan yang pasti Kyle Reese tetap dikirim ke masa lalu apapun Timeline-nya


Ketiga, Dunia Paralel

Gw sengaja membedakan antara percabangan waktu dengan dunia paralel atau semesta alternatif atau Beta Universe kata Stein Gate.

Pertama percabangan waktu meski berbeda tapi hasilnya sama, misalkan si jagoan menyelematkan si gadis dari perampokan (harusnya si gadis terbunuh saat perampokan) namun karena dia mengambil jalan yang berbeda maka si gadis tidak tewas oleh perampok, tapi ketika berada di jalan dia tewas karena ditabrak mobil.

Itu percabangan waktu, cara berbeda tapi hasilnya sama. Namun dunia paralel, bisa jadi orangnya sama tapi hidupnya berbeda.


Keempat, keluar dari Timestream

Ini lebih jauh lagi dari percabangan waktu ataupun dunia paralel.

Orang yang melakukan ini berhasil keluar dari sistem yang seharusnya, atau lebih tepatnya membuat sistem baru yang berbeda dari sebelumnya.

Kasus ini terjadi pada Terminator Genisys dimana seharusnya Judgement Day terjadi pada thn 2004 justru Judgement Day tidak pernah terjadi, dan Sarah Connor serta Kyle Reese yang seharusnya sudah lama mati di tahun 80an justru melompati waktu dan mendarat di tahun 2017 dimana dia bertemu dengan John Connor.

Situasi yang mustahil untuk terjadi tapi terjadi, yang menjadikan entitas paradoks yang seharusnya tidak pernah ada tapi ada di waktu yang sama dan tempat yang sama. Bingungkan bahasanya, si penulis juga begitu ngeselin saya. 


Kelima, Residu TimeTravel

Pertama kali gw kenal konsep ini dari film The Contact-nya Jodie Foster

Ok, sebenarnya itu bukan film TimeTravel secara harfiah, tapi dia punya konsep yang sama tentang memanipulasi ruang dan waktu. Jadi ketika projek pesawat antar dimensi-nya berhasil dibuat oleh para ilmuwan dan Jodie Foster dilempar ke portal tersebut, di dunia nyata dia tidak jatuh ke dalam portal melainkan hanya 0,1 detik.

Tapi apa yang dialami Jodie di dalam sana sebenarnya lebih dari satu minggu. Dan itu bukan hanya terjadi di dalam memori otaknya melainkan secara fisik yang dialami juga oleh pesawat / tabung pengangkutnya, rekaman menyatakan bahwa mereka pergi lebih dari satu minggu di dalam tabung tersebut.

TImeline yang tidak seperti yang lo alami sebelumnya, bisa jadi lebih baik, bisa jadi malah lebih buruk, kadang memang nyaris mustahil mengubah takdir, tapi takdir pasti berubah ketika lo niat untuk mengubahnya.
.  .  .

Ok, sebelum membahas bagaimana mencurangi waktu, gw ingin bicara tentang teori time travel ala Terminator Genisys dulu.

Pada awalnya, sebuah timeline dimulai dengan sesuatu fixed sederhena, satu aliran waktu dalam sebuah loop,

Si tokoh X kembali ke masa lalu disusul oleh Y yang kembali ke masa lalu, kemudian mereka menciptakan masa depan yang sama di mana X pergi ke masa lalu dan Y juga pergi ke masa lalu, dan putaran yang sama itu terus terjadi, kemudian muncul Terminator 2 ini masalah, karena ada tokoh Terminator yang melakukan Timetravel, plus bukan cuma satu melainkan 2 Terminator dengan tujuan berbeda.

Terminator 2 selesai dengan masa depan yang berbeda dari masa depan di Terminator 1, tidak ada Judgement Day di tahun 1997 dan hidup terus berjalan hingga Terminator 3 pada tahun 2004

Di sini berbeda dengan Terminator sebelumnya, Judgement Day tetap terjadi dan manusia tidak dapat mencegahnya apapun yang mereka lakukan

Seperti biasa dua Terminator muncul dari masa depan, yang satu TX ditugaskan oleh Skynet untuk menghabisi John Connor dan para letnan-nya, sedangkan yang satu lagi Arnold dikirim untuk melindungi John Connor dan calon istrinya.

Ok, tahan sebentar di sini.

Masa depan versi Terminator 1 dan Terminator 3 begitu berbeda, di Terminator 1 Skynet mengirim Cyborg ke masa lalu untuk membunuh Sarah Connor sekaligus melenyapkan John Connor sebelum John dilahirkan, tapi di Terminator 3 tujuan Skynet berubah.

Ini berarti masa depan versi Terminator 3 jelas berbeda dengan masa depan versi Terminator 1, di Terminator 1 manusia mencapai kemenangannya pada tahun 2029 sedangkan di versi Terminator 3 tidak ada kemenangan seperti itu bahkan sampai di tahun 2032 di mana John Connor meninggal dan kepemimpinan umat manusia dipegang oleh istri-nya Kate yang juga mengirim Arnold Cyborg ke masa lalu.

Satu masalah lagi bahwa di Terminator 3, Skynet versi masa depan juga tahu tentang Timeline Skynet versi masalalu (Terminator 1) dan karena pengetahuan itu mereka menciptakan strategi baru untuk memenangkan perang, dalam hal ini memusnahkan manusia dengan menciptakan Judgement Day versi baru, dan mereka berhasil.

Pertanyaan bagaimana mereka bisa punya pengetahuan dari Timeline yang berbeda, Ok yang ini kita tahan dulu. Tapi intinya ada dua timeline yang berbeda namun dengan dua takdir yang hampir sama yaitu kehancuran umat manusia hanya saja pada waktu yang sedikit diundur dari versi sebelumnya. 

Kisahpun berlanjut ke Terminator Salvation di mana bumi sudah porak-poranda pasca Judgement Day yang memusnakan separuh dari umat manusia. Di versi keempat ini Skynet tahu begitu banyak kegagalan dari Skynet versi lama di timeline yang berbeda. Karena itu mereka memiliki strategi yang berbeda, mereka harus membunuh Kyle Reese sebelum Reese dikirim oleh John Connor ke masa lalu, antisipasi dari antisipasi dari antisipasi atau equation diatas equation.

Pertanyaan lain bagaimana Skynet bisa tahu tentang masa lalu Skynet versi timeline yang berbeda? Kata si penulis itu layak diperdebatkan dan dibuat disertasi.

Berlanjut ke Terminator Genisys

Di empat film sebelumnya, kita dibuat bertanya-tanya apakah mesin waktu itu benar-benar ada? Dan jika ada seperti apa wujudnya?

Seharusnya, Terminator Salvation menjadi sebuah Trilogi perang besar antara manusia versus mesin di dunia masa depan, tapi mereka tidak menggarap itu mereka melompatinya mereka punya ide lain yang mengacaukan ruang dan waktu yaitu Terminator Genisys.

Sebenarnya saya agak kecewa, kenapa Arnold Swazeneger lagi? Malah dia sudah jadi tua, Terminator versi keriput What a JOKE? Ok, itu nggak masalah karena ceritanya yang menghancurkan semua tatanan yang dibangun selama 4 dekade dunia Terminator.

Semua dimulai dari kemenangan John Connor dan pasukannya menembus pertahanan Skynet di San Fransisco dan mereka menemukan mesin waktu yang selama ini menjadi alat lingkaran setan dalam dunia Terminator.

Dan mereka melihat satu Terminator telah dikirim untuk pergi ke masa lalu, karena itu John mengirim sahabatnya Kyle Reese untuk menyusul Terminator yang telah pergi tersebut dan menghentikannya, harusnya se-simple itu seperti cerita Terminator sebelumnya. Namun ketika Reese sampai ke masa lalu, masalalu sudah berubah berbeda dari Timeline yang ada sebelumnya.

Sebenarnya masalah utamanya bukan pada manusianya, melainkan Skynet, Sang Artificial Inteligence itu harus berpikir keras, mencari solusi yang tidak terpikirkan bahkan oleh manusia sekalipun, Skynet ingin keluar dari sistem, dari masa lalu yang terus berputar sama di tahun 1984, keluar dari perputaran tiada akhir. Mereka harus berpikir lebih dari radikal, lebih dari ekstrim untuk keluar dari perputaran tiada akhir tersebut, dan mereka sampai pada solusi

Bagaimana jika John Connor tidak terbunuh, bagaimana jika John Connor menyatuh dengan mesin dan pergi ke masa lalu, apa yang terjadi yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam eternal loop, akhir dari perputaran tanpa akhir tersebut, mereka keluar dari sistem, dari tatanan yang sudah ada selama ini.

John Connor yang sudah menyatuh dengan mesin kembali ke masa lalu, sebagai antisipasi jika Skynet tidak jadi diciptakan oleh Cyberdyne atau teman-temannya.

Keadaan jadi lebih rumit ketika semuanya; John Connor, Sarah, dan Kyle Reese serta Opa Terminator berada dalam satu waktu. Atau bahasa kerennya "by the time Sarah and Kyle and John all meet up in 2017, they are all impossible paradox beings," Penjelasan si penulis kenapa mereka bisa berada di sana, jika dan hanya jika masa lalu dan masa depan mereka sebelumnya sudah tidak ada. Huh, kata-kata yang keren.

Satu hal yang pasti dari semua hal yang berantakan itu, mereka berhasil menunda Judgement Day untuk yang kesekian kalinya, Setelah Sarah Connor di Terminator 2 berhasil mencegah kiamat di tahun 1997, hingga diundur ke tahun 2004 untuk yang kali ini mereka berhasil mengundurnya hingga tahun 2017 mungkin 2019 lebih. Pertanyaan logis lainnya kenapa Judgement Day perang nuklir itu berhasil diundur? kalau jawaban saya, jelas karena Hollywood menghadapi realita yang terjadi di dunia nyata.

Terminator I dibuat di masa perang dingin antara Amerika dan Rusia, perkembangan teknologi senjata, agen rahasia dan sebagainya. Pada saat itu banyak orang yang mengira akan terjadi perang dunia ketiga atau keempat dan seterusnya. Namun itu tidak terjadi, jadi mereka membuat skenario lain. Begitupula dengan Terminator III dengan Boomingnya internet di tahun 2004an, dan terakhir Genisys di tahun 2015 di mana masa depan dan realita begitu membosankan karena diisi oleh Superhero Marvel dan DC Comics

Ok, kembali ke pertanyaan awal, apa kita bisa mencurangi masa depan? Jawabannya bisa kedua-duanya, antara iya sekaligus tidak.

Gw memang bukan ahli matematik, tapi dari apa yang gw lihat masa depan itu terus tereksponasi. Ok, lo pernah dengar tentang teori untuk menghitung kartu, meramalkan kartu apa yang akan muncul seperti di film Hangover atau Blackjack 21. Para mahasiswa matematik Harvard dan MIT mencoba melakukan hal itu, bahkan mereka membuat klub 21 mereka sendiri. Anak-anakmuda ini bisa melihat masa depan dari kartu yang akan muncul, mereka menghitung probabilitasnya. Tapi itu hanya kartu hanya angka dan simbol yang dibatasi sampai dengan 52 jenis. Namun dunia nyata, masa depan bukan hanya angka dan warna merah dan hitam, bukan hanya 4 simbol. Dunia nyata penuh dengan warna, penuh dengan berbagai macam kemungkinan, dan cara menghitung kartu tersebut tereksponetial. Dengan pangkat diatas pangkat, kuadrat diatas kuadrat, e diatas e, dan seterusnya.

Butuh superduperkomputer untuk bisa meramalkan apa yang terjadi sebelum sesuatu itu terjadi dibalik sesuatu yang akan terjadi dari alternatif yang akan terjadi dan mengantisipasi semua yang akan terjadi sekaligus.


Oh iya, satu contoh lagi yang patut dibahas tentang Time Travel adalah film Souce Code.

FIlm tentang sebuah program yang menggabungkan antara otak manusia dan mesin untuk meramal masa depan. Tapi kemudian lebih dari itu, Source Code benar-benar bekerja untuk memanipulasi ruang dan waktu. Meski diakhir cerita saya sendiri merasa rancu apakah mereka berhasil mengubah masa depan atau tidak mengubah apa-apa, karena pada akhirnya tidak ada yang hancur bukan.

Semua yang terjadi berulang dan berulang hanya simulasi jika A maka B, jika C maka D, jika X maka Y yang terjadi. Dan dari semua itu mereka berhasil memprediksi sesuatu yang bencana belum terjadi dan mencegahnya terjadi, setelah puluhan kali mungkin ratusan kali pengulangan simulasi.

Tapi menurut gw prajurit di Source Code itu terlalu bodoh, harusnya jika dia pintar 2 kali pengulangan saja dia bisa menemukan siapa pelaku pengeboman, dan pengulangan ketiga dia bisa menghentikan bom itu meledak atau maksimal pengulangan kelima dia bisa menyelamatkan semua orang. Jika kita bisa berpikir lebih cepat, jika kita bisa melakukan semua simulasi dan prediksi dengan efektif di otak kita, rasanya kita tidak perlu mesin waktu untuk mencurangi apa yang akan terjadi di masa depan.

.  .  .

Wednesday, July 15, 2015

Ngalor-ngidul tentang

Lingkaran Setan di industri kreatif Indonesia

by Ftrohx


Sore, tadi akhirnya gw ke Gramed Bintaro setelah sekian lama tidak ke sana.

Banyak yang berubah, tapi justru perubahannya nggak sesuai yang gw harapankan. Berada di sana, meski setalah lama tidak ke sana, entah kenapa gw merasa boring.

Beberapa buku best seller yang dipajang masihlah buku lama karya-nya Tere Liye, Dan Brown, Dee Lestari, Sherlock Holmes, Lexie Xu, dan seterusnya. Yang lain adalah beberapa buku luar, seperti Hunger Games, Mocking Jay, City of Bones, Divergent series, Maze Runners, dan teman-temannya. Sementara di buku komedi masih bertengger buku-buku lama Raditya Dika.

Satu-satunya yang membuat gw masih betah di sana adalah sudut komik Jepang. Gw membaca beberapa komik yang nggak sempat gw baca di internet.

Setelah dari sudut komik, tujuan lain gw berada di Gramed adalah sudut majalah. Sayangnya, sudut itu telah diubah oleh pengelola sehingga hanya tinggal setengahnya saja, setengahnya lagi dijadikan rak tempat pulpen dan aksesoris tulis-menulis lainnya.

Tapi itu hanya susunan rak yang sebenarnya nggak begitu masalah buat gw, yang jadi masalah adalah majalah yang gw cari Animonster dan teman-teman sudah nggak kelihatan lagi ada di sana.

Ok, pilihan gw jadi makin sedikit yang tersisa hanyalah beberapa majalah wanita; Femina, Cosmopolitan, Gadis, dan seterusnya, juga majalah FHM Indonesia, Popular, Men Health, dan iya hanya itu aja ditambah beberapa majalah bertema hobi.

Gw membuka beberapa dari mereka, membalik halaman demi halaman, yang kebanyakan adalah foto iklan produk fashion, dan sebagainya. Gw bertanya-tanya sendiri "Kok nggak ada artikel yang menarik ya??"

Entah gw yang aneh, atau mungkin selera dan trendnya sudah berubah? Kok yang gw lihat kebanyakan hanya foto dan foto produk, di mana artikelnya? Tulisannya sangat minim, lebih banyak foto. "Di mana interview atau ulasan-ulasan topik seperti dahulu yang sering gw temukan di majalah? Kok nggak ada ya?"

Ok, gw meninggalkan mereka dan beralih ke majalah lain, majalah Cinemags, dari dulu gw suka Cinemags, gw suka ulasan-ulasan filmnya, kadang mereka juga mengkritik film-film tersebut, dan kadang ada interview yang tidak ada di majalah ataupun media-media lain.

Namun pas gw buka, ulasan-ulasannya sama, ini tidak seperti yang gw harapkan. Kebanyakan review yang ada tidak jauh beda dari yang gw lihat di media online / Cinemags di Facebook yang hampir setiap hari gw ikuti, bahkan versi Facebook jauh lebih update dan detail daripada versi majalah.

Tapi ada satu artikel yang menarik gw di sana, artikel yang mungkin sudah sering kalian dengar di social media dan semacamnya, tentang industri perfilman Indonesia yang belakangan minim atau lebih tepatnya ditinggalkan penonton. Dari Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, dan Habibie-Ainun yang mendapat lebih dari 4juta penonton, sekarang nge-drop di tahun 2015 dengan film seperti Van Der Wicjk, Merry Riana, 99 Cahaya, dan seterusnya yang bahkan tidak sampai 1juta penonton.

Si penulis membuat hipotesi, kenapa penonton film Indonesia bisa begitu nge-drop; pertama mulai dari masalah kualitas, dia bilang kebanyakan penonton Indonesia sudah kapok nonton film Indonesia di bioskop, kebanyakan film Indonesia ya itu-itu aja, drama romansa yang bisa ditonton di televisi. Kedua masalah promosi, kemudian masalah berapa lama sebuah film bertahan di layar bioskop, ataupun masalah jatah layar untuk film-film Indonesia, hal-hal teknik menurut saya.

Sebenarnya gw sendiri, ngelihat banyak hal yang paradoks kalau membicarakan masalah promosi film. Host-host Entertaiment News selalu bilang "Bangga film Indonesia" tapi di sisi lain tiap hari mereka heboh mempromosikan film luar negeri (terutama Hollywood) dengan JAUH LEBIH BANGGA. Ok, saya sendiri juga begitu sih! Hahaha... Paradoks orang Indonesia.  Iya, kembali lagi kita sebagai makhluk ekonomis selalu berpikir tentang mana yang lebih menguntungkan. Bisa diibaratkan pergi ke bioskop itu seperti dihadapkan dua pilihan barang; yang satu original dan yang satu KW namun dengan harga yang sama. Tentu saja, kita akan membeli yang kualitasnya lebih bagus. 

Bicara tentang kualitas, kita bicara tentang lingkaran setan dalam industri kreatif Indonesia.

Kenapa kualitasnya gak bagus? Alasannya tentu saja karena kita kekurangan sumber daya. Kenapa kita kekurangan sumber daya? Karena kita kurang modal; baik itu orang, pengetahuan, dan yang paling penting sumber daya uang. Kenapa kita kekurangan uang? Karena kita kekurangan investor, kita kekurangan sponsor yang berpikir tentang apakah dana yang mereka tanamkan dapat memberi keuntungan, tentu saja untuk memberi keuntungan yang mereka pikirkan adalah apakah film-nya berkualitas? Dan bicara kualitas, kita kembali lagi ke titik pertama dari lingkaran setan ini.

Orang-orang awam bilang bahwa Industri kreatif (musik, film, dan literatur) adalah industri yang tidak pasti, tidak jelas apakah akan menguntungkan atau tidak di masa depan, karena tidak memiliki kepastian mereka bilang bahwa baiknya industri kreatif dijadikan sebagai hobi dan bukan sebuah pekerjaan. Ok, mereka benar industri kreatif memang tidak menguntungkan, tapi kenyataan mereka hidup sekarang karena adanya industri kreatif, musik yang mereka dengar, film yang mereka tonton, dan artikel ngalor-ngidul yang mereka baca semua adalah hasil dari industri kreatif.

Ok, industri kreatif memang tidak menguntungkan tapi lihat berapa banyak orang yang hidup makmur dan dipuja banyak orang dengan hasil kreatifitias mereka.

Mereka bilang bahwa produk dari industri kreatif tidak bisa diukur atau diprediksi masa depannya,

Kalau gw bilang sebaliknya, keuntungan dan kerugian di industri kreatif bisa diukur.

Bagi teman-teman yang pernah kuliah statistik pasti mengenal gagasan tentang analisa multivariat atau analisa multifactor.

Kegagalan dan kesuksesan terjadi bukan karena satu atau dua hal tetapi banyak faktor yang mendukung. Ok, ambil contoh Ayat-Ayat Cinta versus Supernova, keduanya dibuat berdasarkan novel bestseller yang sangat fenomenal pada masanya. AAC menembus 3,5 juta penonton sedangkan SKPB hanya 500ribu penonton.

Padahal menurutnya saya keduanya memiliki ide yang bagus, terlebih Supernova dengan budget yang gila-gilaan, visual yang keren, dan jajaran artis top Indonesia. Sayangnya kenapa dia nggak sampai menembus 1juta penonton. Hipotesis saya, jelas karena persaingan yang ketat, film ini diluncurkan pada bulan Desember dimana dia bersaing bukan hanya film-film lokal seperti Di Balik 98 dan Merry Riana, namun juga film-film Hollywood yang keren di akhir tahun 2014.

Permasalahan lain menurut saya, karena novel ini terlalu lama baru dibuat film. Supernova: Ksatria Putri Bintang Jatuh terbit di tahun 2001an, sedangkan baru dibuat film 14 tahun kemudian. Tidak salah sih, namun jika dibandingkan dengan AAC yang menjadi best seller di tahun 2005-2007an dan dibuat versi film pada thn 2007an. Mereka mengambil momen yang tepat, sama halnya dengan buku Habibie dan Ainun, yang sedang heboh-hebohnya pada thn 2010an dan dibuat film setahun kemudian, jelas mereka tidak kehilangan momen.

Faktor utama lain, jelas karena Indonesia selalu diadu dengan film Hollywood, promosi yang jelas kurang, plus kesadaran masyarakat yang kurang. Kebanyakan teman-teman saya bertanya, memangnya ada film Supernova? Supernova itu apa sih, nggak tahu gw, nggak sepopuler Marvel ya? dan seterusnya.

Kembali lagi gw teringat saat gw masuk ke Gramed tadi sore. Masalah utama lainnya adalah 'buku' atau 'membaca buku' bukanlah populer untuk orang Indonesia, atau istilah kuno-nya "MINAT BACA YANG KURANG"

Ini masalah, bukan hanya untuk para penonton dan konsumer, melainkan juga bagi para produser, penulis, sutradara, editor, dan orang-orang dibalik layar lainnya. Karena kita kurang baca, kita nggak tahu standar apa yang sebenarnya kita punya, kita nggak tahu kalau ada orang yang menciptakan karya yang bagus, dan sekalipun kita tahu kadang kita kurang peduli. Iya, mungkin gara-gara Indonesia kebanyakan orang ekstrovert yang lebih peduli ngomongin kejelekan orang-orang disekelilingnya daripada membicarakan karya-karya industri kreatif.

Sebenarnya gara-gara orang Indonesia kurang suka baca, menimbulkan lingkaran setan juga dalam industri kreatif.

Karena orang Indonesia kurang minat dalam membaca, maka kebanyakan tulisan yang ada ya hanya itu-itu saja. karena kurang minat baca, maka editor lebih memilih genre yang jelas penjualannya seperti buku-buku teenlit romance, sedangkan thriller yang masih belum jelas penjualannya lebih dihindari oleh para editor. Kecuali jika penulis thriller tersebut sudah punya nama. Dan masalah lain lagi, sekalipun ada buku thriller yang terbit, biasanya standar novel thriller tersebut dibawah rata-rata.

Oh iya, dampak permasalahan dunia buku fiksi juga berimbas pada film. Hipotesanya; untuk sebuah film yang bagus dibutuhkan ide yang bagus, dan ide yang bagus bisa didapatkan dari buku/novel yang bagus.

Semakin banyak ide bagus berkeliaran di masyarakat, semakin banyak ide-ide modern yang tersebar, maka film yang dihasilkan akan juga lebih modern. Dalam hal ini seperti di Hollywood dimana bukan hanya film dengan visual effect yang keren, tapi juga film-film yang membawa gagasan rumit seperti Inception misalnya sangat diapresiasi di sana. Tentu saja, masyarakat kita belum siap untuk film-film dengan gagasan tersebut. Novel yang bagus bisa menghasilkan film yang bagus, sedangkan novel yang standar akan menghasilkan film yang standar. dan ini terus menjadi lingkaran setan kenapa kebanyakan film Indonesia yang diadaptasi dari novel-novel menjadi film kelas B.

Hipotesis gw untuk memperbaiki film Indonesia, bahwa kita harus punya karya-karya literatur yang bagus, bukan hanya filosofi atau romance tapi novel thriller yang bagus.  Masalahnya seperti lingkaran setan, untuk menciptakan karya thriller yang bagus kita mesti punya lingkungan akan thriller yang bagus, kita mesti punya ekosistem persaingan antar penulis thriller hingga ke para pembaca yang menunggu karya-karya thriller tersebut. 

Tapi, kembali yang jadi masalah utama dalam dunia literatur Indonesia; masalah KEPEDULIAN dan MINAT MEMBACA. Apakah kita mau peduli dengan sebuah buku yang tergeletak di rak-rak buku, dan apakah kita bisa membuat orang melirik tulisan kita? Apakah kita bisa membuat orang mau membacanya? Itulah yang jadi pertanyaan terutama untuk diri gw sendiri.

.  .  .

Friday, July 10, 2015

Real Life Sherlock Holmes?

by Ftrohx


"Why has Sherlock Holmes continued to captivate readers generation after generation, while other fictional detectives of the Victorian period have been forgotten?" - John Sutherland


Dahulu waktu saya SMP dan SMA, saya sering mendengar nama Sherlock Holmes dari beberapa teman.

Mereka bilang Sherlock Holmes itu detektif pertama di Inggris, detektif yang terkenal dengan kaca pembesarnya, baju kotak-kotak abu-abu, topi ber-Pat ganda, dan cangklong tembakau-nya. Dulu saya berpikir bahwa Sherlock Holmes adalah tokoh nyata di dalam sejarah Inggris, ada orangnya, ada kediamannya, ada jejak-jejaknya, dan ada warisan-warisan nyata-nya.



Kemudian setelah saya masuk kuliah dan mulai melek internet, saya baru tahu bahwa Holmes adalah karakter fiksi yang diciptakan oleh Sir Athur Conan Doyle. Dia cuma tokoh rekaan yang dibuat dalam 4 novel dan beberapa cerita pendek. Tapi, sekarang justru saya bertanya-tanya lagi "Apa benar Sherlock Holmes adalah karakter fiksi?" atau "Jangan-jangan dia memang sosok nyata?"

Belakangan saya menemukan beberapa orang hebat dalam dunia science dengan nama belakang 'Holmes', sebut saja Frederick Holmes, Oliver Holmes, R. M. Holmes, dan Elizabeth Holmes. Bahkan seorang pakar sejarah bilang bahwa Holmes jauh lebih nyata daripada Shakespeare. Ok, langsung saja, di bawah ini adalah nama-nama orang terkenal dalam sejarah yang menggunakan nama belakang Holmes.


1. Oliver Wendell Holmes. Jr.

Dia adalah Hakim Agung paling terkenal dalam sejarah Amerika. Lahir thn 1841 dan meninggal thn 1935 Dia menjabat sebagai Hakim di Supreme Court (Mahkamah Agung) Amerika sampai dengan akhir hayat yaitu di usia 90tahunan. Holmes juga merupakan profesor Hukum di Universitas Harvard.

Namun yang paling menarik adalah Oliver Wendell Holmes adalah teman dari Sir Arthur Conan Doyle di Sociological Club London. "Apakah kebetulan?" Itulah yang masih jadi pertanyaan.

Banyak pakar yang bilang bahwa nama belakang Holmes untuk Sherlock Holmes terinspirasi dari nama belakang Oliver W. Holmes. Demi menghormati sekaligus rasa kagum Arthur Conan Doyle pada Oliver, maka dia menggunakan nama belakang itu untuk karakter fiksinya.  Tapi itu hanya sekedar teori, karena masih banyak nama Holmes diluar sana.

tambahan: saya menemukan nama Oliver Wendell Holmes pertama kali saat saya sedang meriset Ballistic Profiling di wikipedia. Nama Oliver Holmes ada di sana sebagai salah satu pakar pertama analisa Ballistik di dunia.


2. Frederick Lawrence Holmes

Adalah profesor di bidang Sejarah Medis di Universitas Yale, Amerika. Lahir thn 1932 dan meninggal thn 2003. Sebenarnya saya menemukan nama ini gara-gara buku tentang racun yang dikirimkan oleh Irfan Nurhadi kemarin.

Saya penasaran dengan nama ini dan men-searchingnya di google.

Frederick L. Holmes terkenal dengan karya-karyanya di bidang biokimia, metabolisme, dan teori-teori genetika. Frederick juga mendapat banyak penghargaan di bidang science mulai dari Pfizer Prize (1975) and Sarton Medal (2000); History of Medicine's Welch Medal (1978); dan American Chemical Society's  Award (1994).

Oh iya satu buku yang membuatnya cukup terkenal adalah The Sickly Stuart, dimana Frederick menganalisa penyebab kematian dari King Charles II yang meninggal pada abad ke-18. Dia memaparkan teori bahwa sang Raja meninggal karena keracunan Mercury.


3 Ronald M. Holmes

adalah Behaviorist (ahli analisa perilaku) terutama perilaku dari pelaku kriminal dan pembunuhan berantai.

Salah satu karya terkenalnya adalah Profiling Violent Crimes (1996) yang masih dicetak ulang sampai sekarang. Buku yang jadi referensi para Behaviorist dan para pakar Psikologi Forensik.

Selain itu karya-nya yang terkenal adalah 4 klasifikasi Holmes tentang pembunuhan berantai yaitu (1)Visionary, (2)Mission, (3) Hedonistic, dan (4)Power/Control serial killer.

tambahan: saya mengenal nama Ronald M. Holmes (secara kebetulan) saat saya membaca buku Criminal Psychology and Forensic karya Grover M. Godwin.


4. Elizabeth Holmes

Inilah sosok orang dengan nama Holmes yang paling terkenal di tahun 2015-an ini.

Sama seperti Sherlock Holmes, Elizabeth terkenal suka meneliti terutama penelitian terhadap sample darah dan kesehatan manusia. Dia juga peneliti yang tertarik membuat penemuan-penemuan baru dibidang media.

Elizabeth menjadi terkenal karena dia masuk daftar Forbes untuk youngest self-made billionaire pada tahun 2014. Dengan kekayaan bersih sekitar 4 Milyar dollar pada tahun itu. Elizabeth terkenal karena dia mendirikan perusahaan medis yang bernama Theranos (seperti nama karakter atau tempat di games-games bertema Sci-fi Fantasy)

Dia mendirikan perusahaan tersebut saat berusia 19 tahun dengan membuat fingerstick untuk pengujian sampel darah. Pengujian darah yang biasa dilakukan 30 tahapan berbeda dalam lab, bisa dilakukan sederhana dengan fingerstick buatannya.

Dan Theranos berkembangan dengan pesat mulai dari satu stick itu menjadi perusahaan multibillion dollar seperti halnya Facebook berkembang dari kamar kos mahasiswa Harvard. Sekarang Elizabeth dan Theranos memiliki lebih dari 200 paten tes/pengujian kesehatan. Dan saat ini banyak yang menjulukinya sebagai Ratu di bidang Medis dan farmasi.


Sampai saya mengakhiri tulisan ini, saya masih belum bisa membuat konklusi apakah Sherlock Holmes itu fiksi atau nyata? Tapi satu yang coba saya pahami, orang-orang dengan nama belakang Holmes ini adalah orang-orang yang hebat.

Holmes mungkin adalah nama marga atau klan, dimana klan itu ahli dalam bidang medis, kimia, psikologi, forensik dan investigasi. Atau mungkin saya labelkan sebagai klan jenius, seperti halnya Klan Nara di Konoha Gakure ! Hahaha...