Wednesday, January 21, 2015

Tolkien dan Penciptaan Mitologi

By Ftrohx


Beberapa hari ini gw kembali nonton Trilogy Lord of The RIng.

Film yang luar biasa, dan dahulu gw nggak pernah nyangka kalau novel asli-nya dibuat sebelum perang dunia kedua. Tadinya gw kira Lord of The Ring itu angkatannya Harry Potter tahun 90an-2000an ternyata dibuat tahun 1930an.

Dari semua serial LOTR yang paling memorable menurut gw adalah film pertamanya Fellowship of The Ring. Ada satu kalimat yang gw kenang dari film ini, di bagian openingnya. "Sebuah peristiwa yang besar lama kelamaan terkikis oleh waktu, sebuah fakta menjadi hanya sejarah, sebuah sejarah berubah menjadi legenda, dan sebuah legenda berubah menjadi mitos, lalu mitos kadang diceritakan kembali sebagai fiksi." Kalimat ini membuat gw sangat penasaran, membuat gw bertanya-tanya. "Beneran kisah nyata atau hanya fiksi?"

Apalagi saat itu promosinya besar-besaran, yang nge-promoin di TV para VJ MTV, mereka bilang film ini berkisah tentang dunia 6000 tahun yang lalu. Pertanyaannya "Apakah itu BENAR?" Lalu ketika gw lihat trailernya memang sangat mempesona, tapi ada beberapa kali gw menonton ulang ada keresahan dibenak gw, hal-hal yang gw nggak setuju, terutama dengan pakaian yang mereka kenakan, para karakter di sini justru lebih mirip orang-orang Mediaval atau Eropa sebelum Renaisance, bahkan makin mendekati akhir terutama pada Return of The King gw melihat para ksatria Gondor kok jadi mirip para Crusader dari perang salib. Meski begitu kita tetap tidak (benar-benar) tahu apa yang terjadi di masa ribuan tahun yang lalu, seperti banyak rumor yang mengatakan sudah ada pesawat Jet di zaman kerajaan Atlantis.



Sebenarnya keseluruhan cerita dari Lord of The RIng adalah drama peperangan. Ini adalah kisah peperangan fiksi yang dibuat oleh J R R Tolkien, hanya fiksi. Tapi kembali lagi pertanyaan mendasar gw. "Kenapa bisa seolah-olah begitu NYATA?"

Membaca riwayat hidup Tolkien, gw menemukan bahwa dia pernah ikut dalam Perang Dunia Pertama, meski bukan sebagai tentara yang berada di garis depan, namun dia merasakan seperti apa peperangan sesungguhnya. Begitu banyak teman yang dia kenal tewas di medan tempur, mulai dari teman-teman yang dia kenal sejak masa sekolah sampai orang-orang baru yang dia kenal di barak tentara, begitu banyak yang tewas disekelilingnya. Banyak emosi, banyak kesedihan dan kemarahan di sekujur tubuhnya.

Dan inilah yang menurut gw membuatnya menjadi penulis yang KUAT, karena dia mengalami peristiwa tersebut 'peperangan' dan karena itu dia memiliki jiwa dari karakter prajurit yang bertarung untuk negara dan orang-orang yang dicintainya.

Tapi memiliki jiwa seorang Ksatria saja tidak cukup, Tolkien harus punya banyak bahan. Karena itu dia kembali ke kampus, mengambil pekerjaan setelah perang sebagai dosen bahasa Inggris.

Selain Inggris dia juga mempelajari bahasa German dan Prancis, dia juga membaca banyak kisah Norwegia dan juga Balkan seperti Beowolf. Dia tahu legenda-legenda, dan dia punya banyak materi dibenaknya, Plus dia juga seorang cryptographer ahli pemecah sandi saat Perang Dunia, dan itu memberi kekuatan tersendiri bagi tulisan.

Gw nggak ingin mengkritisi, tapi memang banyak orang yang mencoba untuk menjadi J R R Tolkien, namun tentu saja mereka tidak bisa menjadi Tolkien.

Siapapun yang mencoba untuk mendekati Tolkien, menurut gw minimal harus setara dulu dengan John LeCarre yang punya pengalaman di Badan Intelijen Inggirs atau minimal pernah mengambil S2 dibidang Matematik dan Sastra sekaligus, tentu saja nggak semua orang bisa seperti itu.

Bicara tentang Tolkien, untuk bahasa Elf saja misalnya, itu merupakan bahasa tersendiri yang merupakan penyandian dari beberapa bahasa Eropa, dan hasil tidak ngasal melainkan KEREN.

Selain itu yang saya salut dari Tolkien adalah dia seorang penyair. Jarang sekarang ada seorang penulis yang juga seorang penyair, bahkan beberapa novel New York Bestseller yang sedang populer saat ini; Hunger Games Trilogy, Divergent, NumberFour, dan sejenisnya tidak ada syair-syair seperti di Lord of the ring dan The Hobbit. Syair-syair peperangan begitu nyata, sama nyatanya dengan syair-syair peperangan di zaman Mediaval dan Reinaisance.

Sebenarnya saya menulis ini karena kemarin kebetulan saja saya buka kembali blog fiksi fantasi dan membaca review novel Nibiru dari Tasaro GK, novel yang bisa bahwa Atlantis berada di Indonesia, Nibiru bukan novel pertama di Indonesia yang membahas Atlantis, ada Negara Kelima dari Es Ito dan ada beberapa buku indies juga yang mengambil tema itu.

Para penulis muda ini mencoba menciptakan yang sesuatu yang Grande yaitu dengan mengambil tema Atlantis. Melihat ini bagaimana dengan Tolkien? Untuk saya penulis yang jenius itu buka hanya memikirkan karya yang sedang dia godok sekarang tapi juga karya yang akan dia godok selanjutnya. Atlantis adalah tema yang sangat besar dan tentu saja untuk menuliskan harus sangat berhati-hati, harus believable, harus lebih dari sekedar buku, harus menjadi matra yang menyihir pembaca untuk percaya apa yang terjadi ribuan tahun yang lalu.

Dan Tolkien menciptakan novel itu 'The Silmarillion' novel yang bercerita tentang hilangnya daratan Numinor atau yang disebut juga dengan Atlantis.

Lebih dari itu, Silmarillion bukan hanya bercerita tentang Atlantis, dia bercerita tentang penciptaan Middle Earth, dia bercerita kelahiran para Elf, Manusia, Dwarf, dan Hobbit.

Dia juga bercerita tentang Eru Iluvatar yaitu entitas tunggal dari alam semesta, sang pencipta yang menciptakan simfoni Ainur yaitu eternal spirit atau makhluk-makhluk keabadian, atau yang biasa kita kenal dalam agama Ibrani dengan Malaikat. Kemudian yang terkuat diantara para Ainur adalah Melkor, dia memutuskan untuk memberontak, dia menjadi sumber segala kejahatan dan kegelapan di Middle Earth.  Novel ini juga bercerita tentang Valar yaitu 14 Ainur yang turun untuk menjaga bumi, para Valar inipun dikenal sebagai para Dewa bagi penduduk middle earth.

The Silmarillion juga bercerita tentang asal-usul Sauron yang awalnya adalah Maiar yang mengabdi untuk Melkor, dan yang pasti buku ini bercerita tentang perang besar yang jauh sebelum perang-perang dalam legenda Hobbit ataupun Lord of The Ring.

Puncak dari peperangan di masa pra-sejarah itu adalah tenggelamnya daratan Numinor oleh Illuvatar yang juga menjadi akhir bagi Melkor.

Lalu diantara yang selamat lahirlah Isildur yang menjadi pendiri sekaligus raja pertama Gondor, di sisi lain Sauron yang merupakan anak buah dari Melkor juga selamat dari insiden Numinor. Sauron pun menciptakan kerajaan kegelapannya sendiri dan meneruskan cita-cita Melkor untuk menguasai planet bumi, dan cerita pun berlanjut sampai ke perang besar yang melibatkan Cincin Sakti The One.

Oh iya sedikit bocoran ternyata Gandalf merupakan reinkarnasi dari salah satu Ainur (yang berarti Gandalf merupakan reinkarnasi dari Dewa) melihat posisi White Wizard ini, kok gw jadi ingat dengan karakter Krishna dalam Mahabarata. Hm, nggak dia bukan Krishna, dia lebih kayak reinkarnasi dari Dewa Indra.

Terakhir, gw berharap jika Silmarillion di bikin versi film oleh Peter Jackson bakal kembali menjadi Trilogy seperti The Hobbit, dan gw berharap visualnya jauh lebih spektakuler. Dalam khayalan gw bagian pertama dari Silmarillion akan seperti Interstellar-nya Christopher Nolan di fusion dengan Avatar-nya James Cameron namun tanpa menghilangkan tradisi dari Lord of Thr Ring ! Aaaaaaaaaa... Gw banyak maunya. Yang pasti, cerita ini nggak kalah keren dengan Fabula Nova Chrystallis-nya Tetsuya Nomura.

.  .  .

2 comments:

  1. Bener, berharap Silmarillion diadaptasi ke layar lebar semegah Avatar 2 kelak..

    ReplyDelete
  2. Gw sih berharap lebih dari itu, hahaha...

    Karena ini tema-nya besar lebih grande daripada Final Fantasy atau lebih tepatnya Final Fantasy mungkin terinspirasi dari sini, hihi...

    ReplyDelete